Kitab Suci On Line
Ibrani 4:12
Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.


Renungan Harian

Sumber didapat dari:
Frater Sebastianus W. Bu'ulolo, cm

 




| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | April 2008

Sperti rusa rindu sungaiMu...

30 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 16:12-15

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, seorang anak kecil seringkali menangis bila keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tuanya. Orang tua itu tahu bahwa apa yang diminta oleh anaknya tidak baik bagi dirinya, tetapi anak itu seringkali terus merengek-rengek. Anak itu tidak bisa menerima penjelasan orang tuanya dan terus meminta sampai ia capai sendiri dan mungkin sampai lupa akan keinginannya. Kalau sekarang, ketika besar, kita mencoba mengingat peristiwa semacam ini dalam hidup kita, mungkin kita akan senyum-senyum sendiri atas kebodohan dan keluguan kita waktu kecil. Dan mungkin baru sekarang inilah kita tahu mengapa dulu orang tua kita tidak memenuhi setiap keinginan kita. Seiring bertambahnya waktu, semakin mampu kita memahami perkataan orang tua kita. Tidak bisa segalanya dijelaskan dan dipahami saat itu juga. Ada masanya ketika sudah besar kita akan dapat memahami sendiri apa maksud semuanya ini.

Sebagaimana kisah hidup kita ini, demikian pula kiranya kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita setelah Yesus pergi. Yesus menjanjikan kepada kita Roh kebenaran, yaitu Roh itulah yang akan mengatakan, mengungkapkan, dan menjelaskan apa yang belum dapat Yesus katakan kepada kita karena kita belum dapat menanggungnya. Roh itulah yang akan membuka semuanya. Bukan sesuatu yang sungguh-sungguh baru dari Roh itu sendiri, melainkan apa yang sudah ada yang berasal dari Bapa. Roh Kudus inilah yang akan membuat kita mampu memahami kebenaran Allah yang diwartakan oleh Yesus lewat Sabda dan Tindakan-Nya di dunia ini. Akan tiba saatnya bahwa Roh Kudus itu akan mengungkapkan segala kebenaran kepada kita, yaitu bila kita sudah dipandang cukup dewasa, bukan anak-anak lagi.

Roh Kudus ini adalah Roh Allah sendiri. Kehadiran Roh Kudus ini harus dipahami dalam kerangka misteri karya keselamatan Allah yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Inilah hakikat Tritunggal Mahakudus yang tidak bisa dilepaskan dari misteri karya keselamatan. Dalam Roh Kuduslah karya keselamatan Allah ini dikerjakan, sehingga Roh Kudus ini pulalah yang akan memimpin kita ke dalam seluruh kebebenaran. Roh Kudus ini pula yang membantu kita sehingga dapat memahami dan menghayati karya keselamatan Allah yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.

Maka, marilah kita mohon agar Roh Kudus senantiasa menyinari dan menerangi hati kita sehingga kita mampu menangkap karya kasih, karya keselamatan Allah dalam hidup kita. Karya keselamatan yang telah dimulai lewat kurban Yesus Kristus di kayu salib; dan karya keselamatan yang tetap terus berlangsung dalam hidup kita sampai saat ini dengan berbagai macam cara. (fr. kurniawan, cm) ^ Keatas


29 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 16:5-11

Selama satu pekan, Ibu Santi tidak bisa menikmati hari-harinya dengan gembira. Dia tidak bisa tidur dengan tenang. Dia digelisahkan oleh keputusan anaknya untuk mencari pekerjaan di daerah lain yang jauh dari kota tempat tinggal mereka. Dia tidak setuju dengan keputusan anaknya karena kuatir akan keselamatan dan kehidupan anaknya di tempat yang sungguh belum dia kenal. "Siapa yang akan memelihara kamu nak kalau kamu sakit?" Siapa yang akan menghidangkan makanan dan minuman untukmu?", itulah ungkapan-ungkapan yang dilontarkan oleh Ibu Santi untuk menggagalkan rencana anak kesayangannya. Tetapi anaknya tetap berpegang pada keputusannya karena sadar bahwa hidupnya kelak tidak akan tergantung lagi kepada Ibunya. Dia harus memikirkan masa depannya secara matang. Dia sudah dewasa dan tidak seperti anak-anak lagi.

Ibu Santi dalam kisah di atas begitu mencintai anaknya . Tapi sayang, dia tidak rela membiarkan anaknya jauh dari kehidupannya. Sayang, dia tidak membiarkan anaknya bertumbuh dewasa dan memikirkan masa depannya. Berbeda degan sikap Ibu Santi dalam kisah di atas, Yesus sendiri yang lebih memikirkan kedewasaan iman para murid. Untuk mendewasakan iman para murid, Yesus berbicara secara terus-terang kepada para murid-Nya bahwa Dia akan kembali kepada Bapa-Nya yang telah mengutusNya. Lantas, Dia harus meninggalkan para murid. Berpisah dengan Yesus adalah peristiwa yang sangat menyedihkan di dalam hidup para murid. Yesus tahu bahwa mereka sangat sedih. Untuk itu Yesus berkata kepada mereka: "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu" (ayat 7). Roh Penghibur inilah yang akan memampukan para murid untuk dewasa dalam iman. Roh Penghibur inilah yang akan memimpin para murid kepada kebenaran. Roh Penghibur inilah yang akan memampukan mereka menjalani perutusan mereka sebagai rasul Kristus sekalipun akan menghadapi penganiayaan dari penguasa dunia. Keputusan Yesus untuk membiarkan para murid bertumbuh dewasa secara rohani bersama dengan Roh Kudus, Roh Penghibur dan sikap para murid melepaskan secara iklas Yesus untuk kembali kepada Bapa-Nya yang telah mengutusnya akan mendatangkan kebahagiaan dan penghiburan rohani bagi para murid.

Ada saatnya pun kita harus berani menjalani "malam gelap" di dalam hidup kita. Malam gelap yang kita lalui adalah situasi kesepian, kesendirian, kekeringan rohani dan bahkan tidak mampu merasakan kehadiran Tuhan. Jika kita terus berjalan di dalam malam gelap itu dalam sebuah keyakinan iman bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita dan akan mendatangkan Penolong bagi kita, kita akan bertumbuh dewasa di dalam iman. Kita akan mengalami sukacita dan penghiburan rohani di dalam Tuhan yang melebihi kenikmatan duniawi. (fr.bastian-wawan, cm) ^ Keatas


28 April 2008 - Bacaan Injil : Kiis 16:11-15 - Yoh 15:26-16:4a

Yesus tidak ingin murid-muridNya kecewa dan menolak Dia, terlebih ketika menghadapi tantangan pengucilan saat melaksanakan perutusan untuk memberi kesaksian iman. Maka sebelum kenaikanNya ke surga yakni kembali kepada Bapa, Ia mengutus Roh Kebenaran. Roh itulah yang akan memberi kesaksian tentang Yesus, dan Roh Kebenaran itu juga yang akan menyertai para murid dalam memberikan kesaksian iman.

Dalam bacaan pertama, diberikan contoh bahwa Roh kebenaran itu menyertai Paulus dan Silas dalam mewartakan Sabda Allah. Roh itu memberikan pesan kepada Paulus supaya menyeberang ke Makedonia. Paulus dan Silas menuruti pesan itu. Roh itu menyertai Paulus dan Silas untuk pergi ke Makedonia. Namun Roh kebenaran itu bukan hanya hadir dalam diri para murid. Roh kebenaran itu juga menyapa hati orang-orang yang diwartai Injil oleh para murid. Roh kebenaran inilah yang membuka hati Lidia sehingga ia memperhatikan apa yang diwartakan Paulus dan mengimani Yesus yang diwartakannya.

Kita semua adalah misionaris-misionaris (utusan-utusan) yang dipanggil dan diutus untuk mengikuti Kristus sang pewarta kabar gembira kepada orang-orang miskin. Panggilan dan perutusan itu dapat kita capai dan hayati, bila kita mengenakan Roh Kristus sendiri. Roh Kebenaran akan memampukan dan menyertai kita dalam segala perutusan kita. Apakah aku mengimani kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita? Roh Kebenaran itu bekerja dalam diri kita dan menyertai kita, namun Dia sekaligus juga hadir dalam diri orang-orang yang kita layani. Maka janganlah kita mengandalkan kekuatan kita saat mewartakan Injil. Kita perlu membuka lubuk hati kita bagi karya Roh Kudus. Biarlah Roh kebenaran yang akan menuntun kita dan  orang-orang yang mendengarkan pewartaan Injil (fr. gunawan, cm) ^ Keatas


26 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 15:18-21

Saudara-saudara, pernahkah anda mengingat berapa kali anda protes kepada Tuhan saat anda menderita kesusahan? Terutama untuk kesusahan yang seharusnya tidak menimpa anda? Ada seorang teman ditabrak oleh truk, sehingga tulang hidungnya hancur. Ia harus mengeluarkan biaya operasi sekitar 15 juta untuk tahap pertama; dan ada tiga tahap, bila ingin kembali seperti semula. Siapa yang tidak marah dan protes mendapat musibah yang bukan karena kesalahannya? Tapi, inilah yang terjadi dan teman saya itu sungguh luar biasa tabah. Banyak orang yang mengunjunginya merasa marah, tapi ia hanya senyum saja. Kisah yang lain, harus diakui juga, masih banyak saudara-saudara kita, karena minoritas, mengalami perlakuan yang tidak adil. Mereka dibenci karena menjadi katolik. Kepada mereka, hari ini Yesus memberikan penghiburan dan peneguhan, "*Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku*" Saudara, ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah lebih dahulu menderita sengsara dan wafat untuk kita. Ia telah lebih dahulu menanggung hukuman atas pelanggaran yang tidak dilakukannya. Maka, sekali lagi Yesus mengingatkan kita, "*seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya*." Bila kita mengaku sebagai murid-murid Tuhan Yesus, pantaskah kita mengeluh atas penderitaan kita yang tidak sebanding dengan penderitaan Kristus di kayu salib? Di sinilah salib sesungguhnya menjadi sumber kekuatan bagi kita.

Salib mengajak kita untuk rendah hati dalam hidup ini. Belajar untuk menerima apapun, baik yang enak maupun yang tidak enak, dengan hati yang ikhlas dan penuh penyerahan diri. Belajar rendah hati karena ternyata penderitaan kita tidak sebanding dengan penderitaan orang lain dan juga penderitaan Yesus sendiri. St. Vinsensius berkata dalam sebuah konferensinya, "*Kalau dibantah mereka menerima; kalau difitnah mereka bersabar; kalau mendapat tugas yang berlebihan, mereka mengerjakannya dengan senang hati; dan betapapun sulit apa yang diperintahkan, mereka berusaha melakukannya dengan sukarela, sambil mempercayai diri pada kekuatan ketaatan suci. Godaan-godaan yang mereka terima berguna untuk semakin meneguhkan mereka dalam kerendahan hati dan mendorong mereka untuk minta bantuan kepada Allah... sehingga mereka bisa memerangi satu musuh, yaitu kesombongan yang tanpa henti mengganggu kita sepanjang hidup ini." Maka, mari kita belajarlah rendah hati sebab memang, seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya*." (fr. kurniawan, cm) ^ Keatas


25 April 2008 - Bacaan Injil : Mrk 16:15-20

"Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk."

Lima hari yang lalu, sekelompok mahasiswa katolik dikejutkan oleh berita kehilangan dari salah satu teman mereka. Mereka sangat sedih dan bingung. Mereka berharapkan akan segera mendapatkan berita baik yakni teman mereka segera pulang dengan selamat. Puji Tuhan, kemarin sore teman mereka pulang dengan selamat. Betapa mereka sangat bergembira menyambut dia yang pulang dengan sehat.

Pengalaman para mahasiswa yang merindukan berita baik tentang teman mereka yang sekian hari menghilang adalah juga pengalaman hidup kita sehari-hari walaupun dalam bentuk yang berbeda. Kita mengharapkan orang tua kita segera pulang, orang yang kita cintai segera sembuh atau memberi kabar, dan aneka kerinduan lain.

Kerinduan kita yang paling terdalam adalah kerinduan akan kabar baik tentang Allah yang mengasihi dan menyelamatkan. Kerinduan ini rupanya sungguh dimengerti oleh Yesus Kristus sendiri. Lantas, Dia mengutus para murid untuk mewartakan kabar gembira kepada segala makhluk. Kabar gembira tentang apa? Kabar gembira tentang Allah yang menyelamatkan; Allah yang mengampuni, Allah yang menyembuhkan, Allah yang memberi kedamaian; dan kerahiman Allah di dalam diri Yesus Kristus.

Hari ini pun Yesus mengutuskan kita untuk mewartakan kabar gembira. Kegembiraan itu hanya mungkin menjadi kenyataan ketika kita mewujudkan kerahiman Allah lewat kepedulian kita terhadap sesama yang kesepian, sendirian, dan kehilangan harapan hidup. Kegembiaraan itu hanya mungkin juga dialami ketika kita menampilkan gaya hidup yang sederhana, tidak bertindak tidak adil, dan berusaha membiarkan orang lain bertumbuh dalam kasih...

Sebagai orang Kristiani, apakah aku sudah menjadi pembawa kegembiraan dan kerahiman Allah ataukah hanya menjadi pembawa kegelisahan, ketakutan, kebencian, dan bahkan malapetaka bagi hidup orang lain dan alam semesta ini? (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


24 April 2008 - Bacaan Injil : Kis 15:7-21
MENJADI MATAHARI
"Kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka yang dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah."

Orang-orang Yahudi Kristen bersikeras supaya orang-orang bangsa lain yang menjadi Kristen, bersunat seperti perintah Musa kepada orang-orang Yahudi. Para Rasul dan penatua-penatua di Yerusalem bersidang untuk membicarakan soal itu. Mereka berupaya meyakinkan orang-orang Yahudi Kristen supaya tidak bersikeras pada tuntutan mereka itu. Maka para penatua jemaat dan para Rasul memberikan kesaksian mereka kepada orang-orang Yahudi Kristen itu. Petrus dengan lantang berkata kepada para Rasul lain dan para penatua, "Saudara-saudara, kamu tahu bahwa sejak semula Allah telah memilih aku di antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Dan *Allah yang mengenal hati manusia*telah menyatakan kehendakNya untuk menerima mereka. Sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita. *Allah sama sekali tidak mengadakan perbedaan* antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka dengan iman…"

Allah tidak membeda-bedakan orang berdasarkan warna kulit ataupun cantik ganteng. Dia tidak membeda-bedakan orang berdasarkan suku atau kebangsaan. Manusialah yang kerapkali membuat kelas-kelas atau kelompok-kelompok atau geng-geng. Parahnya lagi, mereka memandang rendah kelas atau kelompok yang lain. Akibatnya terjadi saling merendahkan dan saling menjatuhkan tidak ada kasih persaudaraan di antara mereka.

"Oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka (orang Yahudi)." Jadi tidak ada pembedaan-pembedaan di mata Allah. Allah itu seperti matahari yang menjadi terang bagi semua orang. Terang bagi orang yang baik dan orang jahat, terang bagi semua orang. Kita juga dipanggil untuk menjadi seperti matahari bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita dipanggil untuk menerima dan memberikan hidup kita bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Maukah kita menjadi matahari bagi sesama kita? (fr.gunawan,cm) ^ Keatas


23 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 15:1-8

Saudara-saudara, hari ini Yesus mengajak kita untuk belajar dari pohon anggur. Apakah anda pernah melihat pohon anggur? Pohon anggur memiliki banyak batang/dahan yang tersebar jauh, tetapi hanya ada satu batang pokok anggur. Sejauh mana batang itu tersebar; dan biarpun buahnya segar dan berlimpah, ia tidak akan bisa hidup bila terpisah dari pokok itu. Dahan-dahan itu memang menggantung di bambu-bambu yang menyangganya, tapi itu bukan yang utama. Yang utama adalah batang pokok anggur. Inilah yang menarik dan menjadi pelajaran bagi kita.

Marilah kita lihat diri kita sejenak. Betapa banyak kegiatan yang kita lakukan sepanjang hari: di tempat kerja, di rumah, di lingkungan, di Gereja, dan di mana saja; berapa orang yang kita temui setiap harinya; dengan siapa saja kita berbicara lewat telepon, lewat HP, lewat E-mail, chating. Ada begitu banyak kegiatan dan kesibukan setiap harinya. Sama seperti pohon anggur yang dahannya tersebar luas dan menghasilkan buah berlimpah, demikian pula hidup kita ini. Tetapi, dalam semuanya itu, mari kita bertanya, apa yang pokok, apa yang utama? Jangan sampai kita tanpa sadar telah terlepas dari pokok yang justru menjadi sumber kehidupan bagi kita.

Mungkin banyak orang menanggap bahwa yang utama dalam hidup ini adalah karier atau pekerjaan. Segala usaha dan waktu digunakan untuk meningkatkan kariernya dan memang ia berhasil. Sampai kegagalan menimpa dirinya dan segala usahanya menjadi seperti sia-sia. Ia tidak tahu untuk apa hidup ini. Banyak orang juga sibuk berbicara lewat HP, telepon, E-mail, dsb, tetapi mungkin akhirnya ia akan merasa sendiri dan rindu untuk berjumpa dengan seorang sahabat, untuk berbicara dari hati ke hati. Aneka contoh ini mau mengajak kita semua untuk bertanya, apakah yang pokok dalam hidup ini?

Banyak hal dalam hidup ini dapat mengaburkan hidup atau arah hidup kita. Apa yang tampaknya menarik, penting, dan berguna, terkadang juga bisa menyesatkan kita. Kita merasa sudah berbuat sesuatu sebaik mungkin, tapi ternyata sia-sia saja. Begitu banyak tawaran yang menarik, yang lebih menarik, dan paling menarik. Orang menjadi bingung, gelisah, kuatir, atau mungkin saja tidak sadar ke mana semua ini membawanya. Dalam semuanya itu, hari ini Yesus berkata kepada kita, "*Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku didalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuah apa-apa.*" Maukah kita percaya pada tawaran Yesus ini? Ataukah kita masih ragu? (fr.kurniawan, cm) ^ Keatas


22 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 14:27-31a

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hati"(Yoh 14:27)

Dunia kita tampak kacau. Hampir setiap saat, kita mendengar perang, pembunuhan, perampokan, bunuh diri, perceraian, perselingkuhan, pertengkaran dan aneka peristiwa lain yang yang menunjukan wajah buruk dari dunia dan hidup kita saat ini. Berhadapan dengan situasi ini, kita sering mendengar harapan dan doa dari banyak orang akan suatu kehidupan yang damai. Kedamaian seperti apa yang diharapkan? Kerapkali kedamaian yang diharapkan adalah kedamaian karena hanya sedikit atau tidak adanya masalah yang dialami, karena lepas dari kehidupan keseharian yang melelahkan, karena memiliki
banyak uang dan lain sebagainya. Itulah kedamaian yang dimengerti oleh dunia.

Dalam amanat perpisahanNya, Yesus berkata kepada para murid-Nya: "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." Yesus tidak memberikan kedamaian seperti yang ditawarkan oleh dunia. Kedamaian yang diberikan oleh Yesus adalah kedamaian sejati di mana tidak ada lagi kegelisahan dan ketakutan sekalipun harus menghadapi tugas perutusan yang demikian sulit. Kedamaian hidup di dalam hati para murid karena mereka memiliki harapan dan keyakinan akan Tuhan yang selalu menyertai dan mengasihi mereka.

Sebagaimana Yesus menganugerahkan kedamaian kepada para murid-Nya, kita pun dipanggil untuk merindukan dan menerima rahmat kedamaian itu. Kedamain yang diberikan oleh Yesus adalah kedamaian yang sesungguhnya dan tidak seperti yang dipahami oleh dunia dan oleh kita sendiri. Tetapi apakah aku masih mencari kedamaian duniawi? Ataukah aku merindukan dan memilih menerima dan menghidupi kedamaian Yesus Kristus?
(fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


21 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes: 14:21-26

* "...tetapi penghibur yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu"*

Yesus menegaskan kepada murid-muridNya dan kepada kita bahwa *"Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku." * Tanda jika kita mengasihi Tuhan adalah jika kita berpegang pada perintah Tuhan dan melaksanakannya. Yesus menunjukkan hukum yang paling utama: "Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mrk 12:30-31). Maka manakala kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan, itu berarti kita berusaha sepenuh hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan berpegang pada sabda Tuhan dan berusaha sepenuh hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan melaksanakan SabdaNya.

Sudahkah kita berusaha dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan untuk berpegang pada perintah Tuhan?  Kita sebagai manusia kerapkali lemah kehendak dan mudah melupakan Sabda Allah. Kita cepat mendengar namun juga cepat untuk lupa. sehingga Sabda Tuhan yang kita dengar menguap begitu saja. Sabda Tuhan kurang bisa kita cerap dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Kita hanya memanfaatkan sedikit saja tenaga kita untuk mendekat pada Tuhan. Namun itupun sudah demikian berat bagi kita.

Namun janganlah kita khawatir bila kita lemah. Janganlah berputus asa kalau kita dalam kelemahan. Pasca Tuhan Yesus kembali kepada Bapa di surga, Dia tidak lepas tangan terhadap kita murid-muridNya. Ia mengutus Roh Kudus yang akan bertugas untuk mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan para murid akan semua yang telah dikatakan Tuhan kepada orang banyak. Roh Kudus yakni Roh Bapa dan Putera, diutus untuk membimbing Gereja kembali menuju ke rumah
Bapa di surga. Kita sebagai murid-muridNya tidak perlu takut karena Roh Kudus selalu menyertai kita, Dialah yang akan segenap kekuatan dan kuasaNya membantu kita. (gunscm) ^ Keatas


19 April 2008 - Bacaan Injil : Yoh. 14:7-14

Filipus meminta kepada Yesus, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Telah sekian lama Filipus hidup bersama Yesus, tapi tampaknya ia belum juga mengenal siapa Yesus. Karena itulah Yesus balik bertanya "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami." Hidup bersama dengan Yesus, mendengarkan langsung ajaran-Nya, melihat aneka mujizat yang dilakukan-Nya ternyata tidak serta merta membuat Filipus mengenal Yesus secara mendalam.

Kita bisa juga membandingkan percakapan ini dengan kisah anak sulung dalam kisah Bapa yang baik hati (Luk. 15:11-32). Anak itu telah sekian lama tinggal dalam kemewahan dan kelimpahan yang dimiliki oleh bapanya, tetapi rupanya ia tidak merasakan kemewahan dan kelimpahan itu, sehingga ia menjadi iri hati ketika adikknya dipestakan besar-besaran, padahal ia baru saja menghabiskan uang bapanya.

Filipus tinggal begitu dekat dengan Yesus, tetapi ia tidak mampu mengenal siapa Yesus. Anak sulung tinggal dalam kelimpahan bapanya, tetapi ia tidak merasakan kegembiraan tinggal dalam kelimpahan itu. Dua-duanya telah mendapat anugerah yang luar biasa. Filipus mendapat anugerah tinggal dekat bersama Yesus; anak sulung mendapat anugerah hidup dalam kelimpahan bapanya; tetapi mereka tidak menyadari semuanya itu. Lalu, bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah kita juga seperti Filipus dan anak sulung itu? Apakah kita sudah sungguh-sunguh dapat melihat dan mensyukuri anugerah Allah. Apakah dalam segala kelimpahan rahmat lewat pekerjaan, rejeki, persahabatan, yang kita terima selama ini mampu membuat kita menemukan cinta Bapa dalam hidup ini? Ia sesungguhnya hadir dekat dalam hidup kita dengan segala limpahan kasih-Nya, tetapi tidak setiap saat kita bisa menyadarinya. Maka, luangkanlah waktu untuk menyadari itu semua, sehingga kita mampu bersyukur atas semua anugerah-Nya. (fr. kurniawan, cm) ^ Keatas


18 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 14:1-6

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku"
(Yoh 14:6)

"Itu bohong, emang bintang iklannya udah cantik duluan. Koq masih ada orang yang mau dibohongin ya", itulah komentar seorang frater terhadap iklan dari salah satu produk kosmetik kecantikan yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV. Seperti iklan yang disaksikan oleh Frater itu, kita pun hampir tidak pernah lepas dari informasi dan tawaran aneka gaya hidup yang "wah". Tidak jarang kita melihat aneka gaya hidup itu sebagai yang mendasar, padahal itu hanya semu dan tidak mendasar untuk hidup kita.

Yesus "mengiklankan" Diri-Nya sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup. Iklan Yesus bukan iklan bohongan yang tanpa isi. Apa yang dijanjikan oleh Yesus adalah janji yang sungguh dapat dipercaya. Dia berjanji kepada para murid-Nya bahwa Dia kan menyediakan tempat dan membawa para murid-Nya bersama Dia di rumah Bapa-Nya. Singkatnya, Yesus menghendaki supaya di tempat di mana Dia berada, para muridpun ada di situ. Syarat utama yang diajukan oleh Yesus adalah percaya kepada Dia yang mengatakan: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (ayat 6).

Kita telah menjadi murid-murid Kristus selama bertahun-tahun. Tetapi apakah kita sungguh mengimani Yesus sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup kita? Apakah kita mendekatkan diri pada Yesus? Apakah kita merindukanNya setiap saat? Ataukah, kekuatan lain (uang, dukun, kuasa, dll) yang lebih menarik perhatian kita? Percayalah bahwa kita hanya melihat arti hidup kita ketika kita berjumpa dengan Tuhan Yesus Kristus, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup.
(fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


17 April 2008 - Bacaan Injil : Yoh 13:16-20

*"Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."*

Suatu hari saya berkunjung pada satu keluarga. Keluarga ini tergolong orang yang berada. Keluarga ini memiliki rumah yang besar dan halaman yang luas. Untuk menjaga keindahan dan kebersihan rumah dan halaman, mereka mengangkat beberapa orang tukang kebun dan pembantu rumah tangga. Yang menarik, baik Bapak, Ibu dan anak-anak dalam keluarga ini, dekat dengan para pekerjanya itu. Mereka bisa saling menggoda dengan bebas seperti bukan tuan dan pembantunya. Anak-anak juga bebas bermanja-manja dan bermain dengan mereka. Namun di sisi lain, saat para pekerja dibutuhkan untuk  mengerjakan hal yang lain dari pekerjaan hariannya, mereka tetap siap mengerjakannya dengan senang hati.

Pembaptisan menjadikan kita sebagai anggota Tubuh Kristus (Gereja). Namun pembaptisan juga menjadikan kita sebagai utusan Tuhan. Utusan adalah orang yang diminta untuk menyampaikan pesan dari yang mengutus. Kita adalah utusan Tuhan, itu berarti kita adalah orang yang dipanggil Tuhan untuk menyampaikan pesan Tuhan.

Namun untuk menjadi utusan yang baik, kita pertama-tama harus mendengarkan dan menerima Tuhan yang mengutus kita. Baru setelah memahami apa yang menjadi perutusan kita, kita dapat berangkat melaksanakan perutusan Tuhan itu. Tanpa mendengarkan dan menerima Tuhan yang mengutus kita, kita tidak bisa mengantarkan pesan Tuhan itu. Mengapa? Karena kita tidak tahu apa yang menjadi pesan Tuhan kalau tidak mau mendengarkan Dia. Kalau demikian yang kita bawa pesan siapa? Pesan kita sendiri?

"Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku." Tuhan selalu mengutus "nabi-nabi"-Nya pada suatu jaman tertentu. Nabi itu menyerukan kebenaran, keadilan dan kedamaian, menyerukan betapa berharganya martabat manusia, betapa Tuhan sangat mencintai manusia, betapa Tuhan menginginkan manusia hidup dan tinggal dalam persekutuan denganNya. Namun Allah juga mengutus "nabi-nabi" kecil di tengah-tengah kita, "nabi-nabi" yang tidak jauh dari hidup kita. Mereka adalah orang tua yang mencintai kita, saudara-saudari dan teman-teman yang memperhatikan dan bersahabat baik dengan kita, para guru atau dosen dan siapapun yang setia mengajarkan dan meneladankan kebenaran, keadilan dan damai kepada kita. Apakah kita pernah mendengarkan suara Tuhan lewat mereka? (fr.gunawan, cm) ^ Keatas


16 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 12:44-50

*"Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia percaya bukan kepada-Ku, tetapi kepada Dia yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan."*

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, Yesus menyatakan bahwa Ia datang ke dunia ini untuk membawa terang. Terang yang menghalau kegelapan; kegelapan hati manusia. Manusia yang rupanya lebih senang tinggal dalam gelap daripada dalam terang. Yesus, Sang Terang itu, juga menerangi jalan hidup manusia. Yesus menghantar kita kepada Bapa-Nya. Ia menunjukkan jalan supaya sampai kepada Bapa. Karena itulah Ia berkata, "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia percaya bukan kepada-Ku, tetapi kepada Dia yang telah mengutus Aku."

Kitapun sebagai orang katolik juga dipanggil untuk meneladan Yesus, sebagai penunjuk jalan kepada Bapa; menghantar orang untuk berjumpa sendiri dengan Bapa. Kita bisa melakukannya lewat berbagai macam kegiatan harian kita dan juga lewat apapun yang kita miliki. Kita cenderung mengarahkan segalanya itu untuk memuaskan diri kita sendiri, untuk memenuhi kebutuhan psikologis kita sendiri, yaitu untuk mendapatkan pengakuan, pujian, kehormatan, dan sebagainya dari sesama kita. Entah sadar atau tidak, entah banyak atau sedikit, kecenderungan ini seringkali muncul dalam hati manusia. Yesus hari ini memberikan teladan agar kita mengarahkan semuanya itu kepada Bapa sendiri. Marilah kita belajar mengarahkan hati kita kepada Bapa. Hati yang terarah kepada Bapa ini akan sungguh membuat hidup ini menjadi lebih indah dan bermakna.

Hati yang terarah kepada Bapa ini akan membuat kita melakukan segala sesuatu dengan penuh ketulusan. Kita tidak memiliki "agenda pribadi", motivasi terselubung dalam melakukan sesuatu. Kita tulus; juga tanpa mengharapkan "balasan" apa-apa. Ini akan membuat kita tidak menjadi kecewa dan marah kalau pekerjaan kita kurang dihargai oleh orang lain atau kalau kita mengalami kegagalan dan hambatan dalam pekerjaan kita. Ketulusan ini juga membuat kita dapat memandang orang lain dengan positif dan mengusahakan apa yang terbaik untuk sesama kita; bahkan kita dapat menghantar sesama kita untuk berjumpa dengan Allah sendiri. Hidup kita memang bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk Allah. Tepatlah nasihat rasul Paulus, *"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (*Kolose 3:23) (Fr. Kurniawan, CM) ^ Keatas


15 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 10:22-30

Kesombongan kerapkali membuat hati seseorang tertutup terhadap orang lain. Ketertutupan hati membuahkan kepicikan dan kecenderungan untuk percaya pada keyakinan sendiri. Orang lain selalu dipahami berdasarkan kebutuhan dan keyakinan sempitnya. Inilah yang terjadi terhadap orang-orang Yahudi. Mereka telah melihat segala apa yang dilakukan oleh Yesus, tetapi mereka masih belum percaya dan belum mengenal "siapa Dia?" Dalam pelbagai kesempatan perjumpaan dengan Yesus, orang Yahudi, khusunya para pemimpin, cenderung menolak dan berkonflik dengan Yesus. Mereka merasa tahu dan merasa satu-satunya pemilik otoritas terhadap hukum Taurat. Kesembongan ini menutup hati mereka untuk percaya dan lebih mengenal siapa Yesus. Pertanyaan mereka kepada Yesus, -"Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." – adalah pertanyaan yang menunjukkan kepicikan mereka memahami Yesus. Mereka mendekati dan memahami Yesus beradasarkan kebutuhan dan kepntingan mereka. Mereka memahami Yesus sebagai Mesias politik yang membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan romawi. Sementara itu, orang kecil lebih menerima dan mengenal Yesus dengan baik. Mereka mampu melihat siapa Yesus di balik pekerjaan yang dilakukanNya. Ini hanya mungkin bisa mereka capai ketika mendekati Yesus dengan keterbukaan dan kerendahan hati.

Belajar dari kedua kelompok yang menyaksikan karya Yesus, tetapi dengan sikap yang berbeda, kita diajak untuk mengenal dengan jujur sikap kita selama ini terhadap Yesus. Apakah kita masih menolak dan percaya kepada Dia? Apakah kita hanya mendekati dan memahaminya berdasarkan kebutuhan kita (Allah dilihat seperti pusat perbelanjaan yang segera mengabulkan permintaan). Ataukah aku mengenal Yesus seperti orang miskin yang penuh dengan iman dan kerendahan hati? Apakah aku memiliki hati "seorang miskin" yang selalu bersyukur atas segala apa yang diterimanya dan segala peristiwa hidupnya diserahkan kepada Tuhan dan bukan pada diri sendiri? Mari kita memiliki hati "seorang miskin" agar kita mampu mengenal dan peracaya kepada Yesus. (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


14 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 10:11-18
"Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya"

Saat merenungkan Misteri Paskah yang kita rayakan saat ini dalam terang Sabda Tuhan hari ini, saya tergerak untuk mengagumi pribadi Yesus yang merupakan Gembala Agung yang memiliki totalitas bagi kita domba-dombanya.

Bagi kebanyakan orang, khususnya kaum orang muda, memiliki totalitas sangat tidak mudah. Memiliki totalitas dalam studi dan menekuni hobby yang membangun hidup kita, tidaklah mudah. Kita mudah sekali untuk menoleh atau melihat ke kanan atau kiri. Mudah penasaran dengan model-model baru, barang-barang baru dan kita cepat ingin mencoba, namun lagi-lagi kita cepat jemu dan ingin yang lain lagi.... begitu seterusnya.

Yesus memberikan teladan yang agung. Yesus memberikan diriNya secara total demi melaksanakan kehendak Bapa di Surga sekalipun harus menderita sengsara. Bahkan, dengan cinta yang berkobar-kobar kepada manusia, Yesus rela mati di Kayu Salib. Yesus bertindak seperti Gembala yang memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya. Bagi Yesus, kita adalah milikNya yang sangat berharga. Dia tak rela kita, domba-domba-Nya, jatuh ke tangan pencuri atau binatang buas. Mengapa kita masih belum percaya dan berani membiarkan diri dan hidup kita untuk digembalakan/ dipimpin oleh Yesus sendiri? (fr.gunawan, cm) ^ Keatas


12 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 6:60-69

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, bacaan Injil hari ini mengakhiri pengajaran yang panjang soal Roti Hidup. Pengajaran ini ditutup dengan sebuah tantangan, "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" "Adakah perkataan ini mengguncangkan imanmu?" Saudara, apa yang membuat pengajaran ini keras dan mengguncangkan iman? Saya merenungkan ada dua hal.

Pertama, tampaknya sulit bagi orang Yahudi untuk mengubah keyakinan mereka yang lama. Mereka masih begitu terikat dengan roti manna yang dimakan oleh nenek moyang mereka. Padahal, di depan mereka ditawarkan roti surgawi yang memberi kehidupan. Seringkali kita juga terikat dengan pola pikir kita yang lama dan sulit untuk menerima sesuatu yang baru. Ada berbagai alasan penolak. Salah satunya adalah karena kita tidak berani ke luar dari "daerah" aman kita dan mengambil risiko gagal atau jatuh, serta karena kita kurang atau tidak percaya. Ini semua membuat kita menolak segala yang "tampaknya baru" itu.

Kedua, orang Yahudi sungguh sulit menerima ketika Yesus meminta mereka untuk makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Ini sungguh sesuatu yang sulit dan tidak masuk akal. Mungkin kita saat ini juga masih sulit untuk percaya bahwa roti kecil bundar yang kita santap dalam  setiap perayaan Ekaristi adalah sungguh-sungguh Tubuh Kristus. Secara fisik, roti itu memang tetap roti kecil, tidak berasa, dan tidak enak. Mata kita melihat seperti itu. Tetapi, dengan mata iman, kita percaya bahwa itu adalah Tubuh Kristus. Sebagaimana tubuh jasmani kita memerlukan makanan jasmani, demikian pula tubuh rohani kita memerlukan pula makanan rohani. Makanan rohani itu adalah sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Sebagaimana makanan jasmani memberikan kekuatan jasmani kepada kita, demikian pula sengsara dan wafat Tuhan Yesus memberikan kekuatan rohani kepada kita. Kekuatan rohani yang muncul karena kita merasakan bahwa Allah sungguh mencintai kita dan rela berkorban untuk kita.

Lalu, bagaimana caranya agar dua hal ini tidak menghalangi kita untuk percaya? Tuhan yesus berkata, "Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya" *Menjadi katolik adalah suatu karunia dan panggilan dari Bapa sendiri*. Maka, sebenarnya bukan kita yang memilih, melainkan Bapalah yang telah memilih kita dan berkenan mengaruniakan rahmat panggilan-Nya. Karena itu, satu-satunya jalan adalah datang kepada Bapa sendiri dan memohon kepada-Nya supaya Ia mengaruniakan rahmat agar kita dapat percaya. Mintalah Bapa untuk mengajarkannya kepada kita, segala pertanyaan iman kita, juga segala teka-teki hidup kita ini.

Saudara-saudara, banyak hal dalam hidup kita ini yang belum jelas bagi kita. Meskipun demikian, kita tetap diminta memiliki keberanian untuk percaya dan mohon agar Bapa berkenan memberikan jawaban-Nya. Seperti Simon Petrus yang belum sungguh-sungguh memahami perkataan Yesus tetapi berani berkata, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." Demikianlah kita, setiap orang yang beriman katolik, ditantang oleh Tuhan Yesus sendiri, "Adakah perkataan ini mengguncangkan imanmu?" (*fr. kurniawan, cm*) ^ Keatas


11 April 2008 - Bacaan Injil : KISAH PARA RASUL 9:1-20

*"Orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain"*

Tuhan mengubah Saulus dari penganiaya dan pembunuh Jemaat menjadi alat pilihan untuk membela iman. Kisah saulus ini cukup menarik untuk disimak. Dalam perjalanan ke Damsyik untuk menjalankan misinya, yakni mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan, Yesus menampakkan diri kepadanya. Yesus mengadakan dialog singkat dengan dia. Selanjutnya, Saulus dikisahkan menjadi buta. Peristiwa itu menjadi titik balik bagi hidup Saulus. Saulus tidak lagi melanjutkan misi penganiayaannya, tetapi Yesus mengubah orientasi hidupnya yakni dari penganiaya menjadi alat pilihanNya. Kalau dulu dia begitu dikendalikan oleh kebanggaan mengancam dan membunuh jemaat Tuhan, kini dia membiarkan hidupnya dituntun oleh kehendak Tuhan sendiri. Bahkan dalam usaha memberitakan nama Yesus kepada bangsa-bangsa lain, dia akan mengalami banyak penderitaan.

Tuhan memilih Saulus yang adalah pendosa, penganiaya dan pembunuh jemaat menjadi alat pilihan untuk mewartakan nama Tuhan.Tuhan mengubah  Saulus yang hidup dengan idealismennya sendiri. Tampaknya, hal ini tidak mungkin. Tetapi Tuhan bisa mengubah dan memilih seseorang menurut kehendakNya. *Kalau Tuhan bisa mengubah dan menggunakan Saulus, seorang berdosa dan yang hanya hidup dengan idealismenya sendiri, mengapa kita seringkali tidak sabar dengan perubahan dalam diri orang lain dan bahkan berusaha menyingkirkan mereka? Bukankah Tuhan juga punya rencana bagi mereka yang belum mereka  dan kita lihat? Marilah kita belajar memiliki hati, seperti hati Yesus, yang selalu menerima siapa saja dan memandang siapa saja sebagai orang penting sekalipun di mata banyak orang termasuk kita, dia sangat lemah dan tidak berarti. *(fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


10 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 6:44-51

Kapan Anda mengimani Kristus? Kalau saya dibaptis saat bayi berumur enam bulan. Mulai bayi orang tua saya mendampingi perkembangan iman saya. Cerita mereka, saat kecil, setiap malam Minggu, mereka menggendong saya ke Gereja untuk mengikuti Ekaristi atau ibadat sabda. Kemudian saat SD, mereka mendorong saya untuk bergabung dengan teman-teman Minggu Gembira di gereja stasi saya. Saat acara Minggu Gembira, saya ikut bernyanyi, bermain, dan mendengarkan cerita-cerita tentang hidup Yesus. Dari cerita-cerita sederhana itulah, saya juga mengenal arti hari Natal, Hari Paskah dll.

"Tidak seorangpun dapat datang kepadaKu jikalau ia tidak *ditarik* oleh Bapa yang mengutus Aku"(Yoh 6:44). Kalau Bapa tidak menarik kita, kita tidak dapat datang dan mengimani Kristus. Namun siapapun yang telah ditarik Bapa, dan percaya kepada Yesus Kristus, ia mempunyai hidup. Dan dalam iman akan Yesus yang adalah roti hidup, kita akan hidup selama-lamanya.

Masalahnya adalah: apakah kita mau ditarik oleh Bapa? Ataukah kita lebih suka berpegang pada kemanusiawian kita, mengandalkan usaha dan pemikiran kita saja. Ingat bahwa kita adalah manusia yang terbatas. Ingat pula bahwa kita adalah kesatuan jiwa badan dan roh. Keterbatasan kita kerapkali menjadi halangan bagi kita untuk mendekatkan diri pada Allah dan juga ditarik oleh Bapa.

Kisah perjalanan iman saya itu, terasa sekali sebagai sebuah proses alami manusiawi biasa. Dan memang demikian. Namun dalam hal yang biasa itu, Allah turut bekerja. Bapa  hadir dan berusaha menarik kita. Allah hadir dalam orang tua, teman-teman dan saudara-saudari kita. Teguran, pendampingan, nasehat, bahkan kemarahan demi kebaikan dari orang-orang dekat kita, adalah perwujudan Allah yang setia seperti seorang Bapak yang tak pernah meninggalkan anaknya walaupun anaknya kadang nakal, dan tak tahu balas budi.

Pertumbuhan iman kita pertama-tama adalah rahmat Allah, namun juga usaha kita untuk menjawab Bapa yang setiap hari menarik kita kepadaNya. Maukah aku menjawab tarikan Allah itu? Kalau mau, maka kita akan menikmati hidup yang kekal. (gunscm) ^ Keatas


9 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 6:35-40

Saudara-saudara, bacaan hari ini masih tentang Roti Hidup. Yesus berkata, "*Akulah Roti Hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.*" Yohanes ingin membandingkan Yesus sebagai Roti Hidup dengan roti manna yang dimakan orang Israel di padang gurun. Peristiwa penggandaan roti langsung membuat orang-orang ingat akan kisah Yahwe memberi makan manna kepada umat Israel. Namun, Yohanes juga sekaligus mau menunjukkan bahwa yang ada sekarang di sini adalah jauh lebih besar. Yang ada sekarang ini adalah roti yang akan memberikan kepada kita kehidupan kekal. Yesus menegur orang-orang yang hanya memikirkan roti untuk memuaskan perut mereka. "*Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang*."(Yoh.6:26) Yesus ingin mengajak kita untuk tidak hanya berbicara soal makanan jasmani. Ada yang lebih tinggi daripada itu, yaitu makanan rohani. *Allah memberi kita rejeki yang cukup setiap harinya untuk kita supaya kita mau mencari apa yang perlu untuk kehidupan kekal.*

Menu rohani yang ditawarkan oleh Yesus ada 2 macam. *Datang dan percaya kepada-Nya*. Inilah menu utama makanan rohani kita. Setiap kali kita mau memesan ini, kita tidak akan ditolak-Nya. Ia sungguh mencintai milik-Nya. Nah, supaya kita bisa datang dan percaya, kita juga perlu menyusun menu rohani harian kita. Sebagaimana seorang ibu menyusun menu makanan harian, demikian pula kita perlu menyusunnya. Pagi, mungkin bisa dengan doa pagi dan hening sejenak atau syukur bila bisa merayakan Ekaristi. Siang hari, pemeriksaan batin, membaca Kitab Suci, kunjungan orang sakit. Sore hari, aneka devosi, kunjungan keluarga, doa lingkungan. Malam hari, doa malam, membaca Kitab Suci, menulis buku harian. Dan sebagainya. Yah, masing-masing dari kita bisa menyusun menu sesuai dengan keadaan dan kesibukan diri kita. *Semua menu ini mengajak kita untuk datang dan percaya kepada Yesus, Sang Roti Hidup.*

Saudara-saudara, Yesus telah memberikan Dirinya sebagai Roti Hidup dan Ia menjamin bahwa siapa saja yang datang kepada-Nya tidak akan ditolak-Nya. Inilah kehendak Bapa yang harus dilakukan oleh Yesus, "... *supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.*" Maka, marilah kita datang dan percaya kepada-Nya.
(*fr. kurniawan, cm*) ^ Keatas


8 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 6:30-35

"Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi."

Peristiwa memberi makan lima ribu orang semakin membuat banyak orang Yahudi mengikuti Yesus. Sekalipun mereka telah melihat tanda kuasa ilahi-Nya, mereka belum sungguh percaya kepada Yesus. Mereka masih meminta tanda dari Yesus supaya mereka dapat percaya di dalam Dia. Tanda yang mereka inginkan paling tidak seperti tanda yang dialami oleh nenek moyang mereka di mana nenek moyang mereka telah makan manna yang turun dari surga di padang gurun.

Berhadapan dengan orang banyak yang juga belum mengenal dan percaya kepada-Nya, Yesus memberi kesaksian tentang siapa diri-Nya. Dia adalah Roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup bagi banyak dunia. Dia adalah Roti hidup. Dia pun sungguh memberi janji ini: "Barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi."

Kita telah mengalami banyak karya Allah di dalam hidup kita. Kalau kita sungguh menyadari dengan penuh kerendahan hati, sebenaranya banyak hal sepele yang telah dan selalu kita alami. Itu seharusnya membuat mata kita terbelalak dan hati kita dipenuhi dengan syukur atas karya Ilahi Allah dalam hidup kita. Tetapi, seperti orang Yahudi, kita kerapkali terlalu melihat karya Allah itu dengan mata fisik yang menghalangi kita melihat karya dan kehadiran Allah di dalamnya. Kita tidak juga mengerti dan mengakui karya Allah yang telah kita alami. Kita menuntut banyak hal dari Allah sebelum mempercayai-Nya sebagai sumber hidup. Yesus meminta kita untuk percaya sepenuhnya kepada-Nya sebagai Sang Kehidupan tanpa keragu-raguan. (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


7 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 6:22-29

 "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah"

Saat Perayaan Paskah kemarin, saya bertemu dengan seorang ibu yang beberapa kali mimpi suatu hal, namun yang membuat beliau heran adalah apa yang muncul dalam mimpinya itu terjadi sungguh. Suatu saat setelah berdoa sore, beliau mendengar suara orang yang berkata kepadanya: "Kehadiranku dalam kerendahanmu." Anehnya suara itu tak jelas sumbernya dari mana. Saat beliau tanya kepada anak-anak dan suaminya, mereka mengatakan bahwa mereka tidak mengucapkan kata-kata itu.

Beliau mengimani bahwa kata-kata itu adalah dari Allah sendiri. Allah memberikan pesan tertentu kepada beliau.

Selama beberapa bulan beliau bertanya-tanya apa maksud dari kata itu. Beliau menanyakan arti kata itu kepada beberapa orang, namun menurut beliau belum ada arti yang dirasa tepat. Ibu itu juga menanyakan arti kata itu kepada saya. Lalu saya katakan bahwa "Kehadiranku" itu maksudkan adalah "Kehadiran Tuhan", sedangkan "Kerendahanmu" maksudnya adalah kerendahan hati ibu itu. Jadi, dalam diri orang yang rendah hati, Allah hadir.

Bacaan hari ini mengungkapkan bagaimana Yesus menanggapi orang-orang yang mencari Yesus. Mereka  dengan susah payah mencari Yesus namun dengan maksud yang kurang tepat. Mereka mencari Yesus karena mereka telah makan roti yang digandakan oleh Yesus. Mereka ingin menikmati pengalaman yang sama. Maka Yesus menegur mereka dengan keras *"… sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.* *Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai pada hidup yang kekal…" ** **"Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."*

Segala usaha kita untuk mencari Yesus, bisa saja dengan maksud yang kurang tepat. Kita berdoa memohon banyak hal yang kita inginkan kepada Tuhan. Kita mohon pekerjaan yang baik, ketika sudah mendapatkan pekerjaan, kita ingin motor, setelah memperoleh motor, kita ingin mobil, setelah punya mobil ingin rumah mewah …  tiada habisnya.

Kita secara tak sadar ingin "menyetir" Tuhan sesuai keinginan kita. Kalau kita ingin satu hal maka kita seperti mendesak Tuhan untuk mengabulkan permohonan kita. Hal ini jelas tak mungkin. Bacaan hari ini menegaskan maksud yang patut dimiliki saat mencari Tuhan yaitu *percaya kepada Dia yang telah diutus Allah. *Kita mencari Tuhan untuk semakin memiliki kepercayaan kepada Tuhan. Dalam kerendahan hati kita yang mau percaya kepada Allah, Allah hadir.
(fr.gunawan,cm). ^ Keatas


5 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 6:16-21

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, kemarin kita mendengar kisah pergandaan roti menurut Yohanes. Banyak orang berbondong-bondong datang untuk mendengarkan ajaran Yesus. Dan sungguh ajaran Yesus menyejukkan hati mereka. Dan bahkan hidup mereka menjadi terjamin bersama dengan Yesus. Hal ini tampak ketika Yesus memberi mereka semua makanan. Dari peristiwa ini kita bisa mengatakan bahwa bersama Yesus hidup kita pasti terjamin selalu. Hal yang berbeda kita dengar dalam Injil hari ini. Di tengah malam gelap, para murid naik perahu tanpa Yesus. Laut bergelora karena angin kencang, sehingga mereka ketakutan. Takut tenggelam, binasa, diterjang ombak yang dahsyat. Ketakutan ini membuat mereka menjadi panik dan tidak bisa berpikir jernih lagi. Mereka tidak mengenali lagi Yesus ketika berjalan di atas air. Aneka ketakutan mungkin membuat mereka berpikir yang aneh-aneh. Maka Yesus berkata, "Ini Aku, jangan takut!" Setelah Yesus naik ke perahu, segeralah mereka sampai ke pantai. Tanpa Yesus, hidup mereka diliputi ketakutan, kepanikan, dan kecemasan. Bersama Yesus hidup mereka menjadi aman dan dapat sampai ke tujuan.

Saudara-saudara, bagaimana dengan hidup kita sendiri? Apakah pengalaman para murid itu juga kita alami dalam hidup kita? Adakah kita mengalami rasa takut, cemas, gelisah, panik, dalam hidup kita? Dalam pekerjaan kita? Dalam hidup berumah tangga? Dalam aneka pelayanan? Dalam berelasi? Ketika kita mengingat semua itu, apakah kita sudah mengajak Yesus dalam setiap langkah hidup kita? Rasul Paulus mengajarkan kita untuk melakukan segala sesuatu dalam nama Yesus. "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kolose 3:17). Sudahkah kita melakukan segala sesuatu dalam nama Yesus?

Untuk itu setidaknya ada dua hal yang perlu kita tanyakan dalam diri kita. Pertama, Apakah hidupku sudah sesuai dengan apa yang diajarkan dan diteladankan Yesus? Bila kita mau bersama dengan Yesus, berarti kita harus mau mendengarkan Dia dan mengikuti apa yang diajarkan dan diteladankan-Nya. Mungkin kita lebih sering mencari jalan kita sendiri, sesuai dengan keinginan kita sendiri, yang tentu enak bagi kita. Kedua, Apakah kita sudah berusaha melibatkan dan menyerahkan segala sesuatu yang kita lakukan kepada Yesus? Sekecil apapun yang kita lakukan bila kita lakukan dalam nama Yesus,  akan menghasilkan buah yang berlimpah-limpah untuk kita sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Para murid telah membuktikan sendiri bahwa bersama Yesus hidup mereka menjadi aman dan terjamin selalu. Maka, marilah kita berusaha untuk melakukan segala sesuatu dalam nama Yesus dan bersama dengan Yesus.
(fr. kurniwan, cm) ^ Keatas


4 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 6:1-15

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus meminta murid-murid untuk memikirkan dan mencari jalan keluar bagaimana caranya supaya 5000 orang laki-laki belum terhitung perempuan dan anak-anak dapat makan saat itu. Maka Yesus bertanya kepada mereka: "Di manakah kita akan membeli roti, sehingga mereka ini dapat makan?" Bisa dibayangkan kebingungan yang dihadapi oleh para murid. Mereka barangkali mulai menghitung-hitung uang kas yang mereka miliki, selain itu juga berfikir mau kemana mereka membeli makanan karena mereka berada di tepi danau Tiberias yang jauh dari penjual makanan. Maka mereka mulai bertanya-tanya kepada orang-orang, adakah mereka membawa makanan. Rupanya ada seorang anak kecil yang memiliki lima jelai roti dan dua ikan. Namun tetap saja para murid bingung, karena mana mungkin cukup 5 roti dan 2 ikan untuk orang sebanyak itu.

Melihat kebingungan para murid, Yesus tetap tenang. Namun Ia tidak tinggal diam. Para murid yang sedang bingung itu, dimintaNya untuk menyuruh orang-orang itu duduk. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikan roti-roti dan ikan-ikan itu dan orang-orang itu makan sampai kenyang, bahkan potongan-potongan roti yang tersisa berjumlah 12 bakul penuh. Melihat hal itu, orang-orang bersukacita dan memuji Tuhan serta semakin terkagum-kagum pada Yesus: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia."

Yesus tahu kapan saat yang terbaik untuk mengajar para murid dan menunjukkan siapa diriNya dihadapan banyak orang. Dalam bacaan hari ini, Yesus mengajar murid-murid untuk terlibat. Teribat memikirkan apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Kebutuhan orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Yesus itu adalah "tanggungan" dari para murid juga. Namun itu tidak berarti Yesus lepas tanggung jawab, melainkan Yesus ingin melibatkan para murid untuk memenuhi kebutuhan makanan dari orang banyak itu. Maka dalam ketenanganNya, akhirnya Yesuslah yang turun tangan untuk mengatasi masalah itu. Yesus kemudian mengucapkan dosa syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada orang banyak. Para murid tentu terlibat dalam membagi makanan yang telah digandakan oleh Yesus itu.

Dalam keterlibatan kita untuk melayani sesama, pada dasarnya kita tidak sendiri. Terlebih saat orang yang kita layani begitu  rewel, maka kita kerap merasa marah jengkel sendiri. Namun Yesus dalam bacaan hari ini menunjukkan bahwa Dia selalu menemani kita dalam segala kesulitan.  Yesus tahu apa yang terbaik untuk sesamanya saat itu.
(fr.gunawan,cm). ^ Keatas


3 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 3:31-36

Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.

Biasanya kalau kita tidak menganggap seseorang, apa pun yang dia katakan tidak akan kita perhatian, sekalipun itu benar. Jika tidak tertarik dengan sesuatu sekalipun baik bagi kita, kita tidak akan memberi hati kepadanya, bukan? Masih banyak lagi yang menunjukkan sikap acuh tak acuh kita terhadap apa yang baik dan bener!

Injil hari ini menampilkan kesaksian Yohanes tentang Yesus yang ditolak dan diacuhkan oleh manusia. Bagi Yohanes, Yesus itu adalah Dia yang datang dari atas; Dia yang datang dari surga; Dia yang memberi kesaksian tentang apa yang dilihat dan didengar-Nya; singkatnya Yesus adalah Dia yang dikasihi Bapa dan yang kepada-Nya segala sesuatu diserahkan? Seharusnya, setiap orang harus mendengar dan mempercayai Dia. Tetapi rupanya, manusia bersikap acuh terhadap segala kebenaran yang disampaikannya. Manusia lebih memilih untuk tinggal di dalam kegelapan. Manusia tidak taat terhadap Dia. Manusia tidak tertarik dengan kehidupan kekal yang ditawarkan-Nya.

Bagaimana kita bersikap sebagai pengikut Kristus? Teladan iman dan hidup St. Petrus kiranya menjadi teladan iman dan hidup kita. Petrus telah menerima Yesus di dalam hidupnya. Dia telah berjumpa dengan Yesus yang hidup dan yang memberi arti bagi hidupnya. Karena itu, dia tetap teguh berpegang pada imannya akan Kristus sekalipun para pemimpin Yahudi memintanya untuk menyangkal Yesus.

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh 14:6). Tetapi apakah aku sungguh mencari dan merindukan-Nya dalam hidupku? Adakah aku acuh dan menyangkal Dia jika aku harus mempertaruhkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku hanya karena namaNya? (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


2 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 3:16-21

Ada pepatah yang mengatakan sir susu dibalas dengan air tuba, artinya kebaikan dibalas dengan kejahatan. Pepatah ini sebenarnya juga mengajak orang untuk mari membalas kebaikan dengan kebaikan (tetapi tidak serta merta sebaliknya, membalas kejahatan dengan kejahatan). Pengalaman paling nyata dan tragis seringkali dialami oleh para orang tua, khususnya ibu. Betapa besar cinta seorang ibu yang sudah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membesarkan, dan mendidik anaknya. Tetapi, belum tentu anak itu tahu berterima kasih dan membalas segala kebaikan ibunya. Begitu banyak anak yang tumbuh menjadi anak yang nakal dan menyusahkan orang tua. Meskipun demikian, ibu yang baik adalah ibu yang tak pernah menuntut balas. Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Kasih ibu akan tetap
memancar, tak menuntut balasan apa-apa selain ingin mencintai buah hatinya.

Demikianlah kasih Allah kepada umat manusia. Ia begitu mengasihi manusia sampai Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup kekal. Ternyata, air susu dibalas dengan air tuba. Cinta Allah bertepuk sebelah tangan. Manusia yang dicintai-Nya justru lebih senang hidup dalam kegelapan daripada dalam terang. Manusia lebih senang tetap  hidup dalam kejahatannya daripada berusaha menerima kasih Allah. Meskipun demikian, Sang Anak itu datang bukan untuk menghakimi manusia, melainkan untuk menyelamatkannya. Maka, entah diditerima atau ditolak, Ia tetap datang untuk mengasihi manusia dan untuk menyelamatkannya.

Saudara-saudara, inilah panggilan Allah untuk manusia, yaitu untuk menjawab tawaran kasih Allah. Bukan kita yang pertama-tama mengasihi Allah, melainkan Dialah yang terlebih dahulu mengasihi kita. Maka, setiap perbuatan baik yang kita lakukan adalah ungkapan atau jawaban atas kasih Allah itu. Jika perbuatan itu kita lakukan sebagai ungkapan syukur atas kasih Allah, kiranya tak ada alasan untuk berhenti berbuat baik, terutama ketika tidak ada balasan atau disalahmengerti, karena semuanya sudah "dibayar" dimuka. Allah telah jauh lebih dahulu mencintai kita. (*KD*)
^ Keatas


1 April 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 3:7-15

Alkisah ada seorang rahib yang sangat terkenal kebijaksanaannya. Dia selalu menjadi tempat bertanya dari banyak orang. Pada suatu hari, Rahib melihat seorang pemuda dari kejauhan yang berjalan sendirian. Pemuda itu rupanya ingin bertemu dengan sang rahib. Ketika sampai di depan biara si rahib, dia berkata kepada rahib itu kalau ingin bertemu dengan seorang rahib yang terkenal kebijasanaannya. Rahib yang terkenal kebijaksanaannya itu dan yang langsung bertemu dengan diri, mengundang pemuda itu untuk berjalan-jalan di taman biara. Sambil berjalan pemuda itu bertanya: "Rahib, apa itu keheningan?" Rahib tidak memberi jawaban, tetapi malah menyuruh dia untuk diam sejenak menikmati alam yang ada di sekitarnya… tetapi pemuda itu tidak sabar menunggu penjelasan dari rahib itu. Lalu dia mulai mendesak rahib itu. tetapi toh rahib itu hanya diam. Lantas pemuda itu mencela sang rahib, bahwa apa yang didengarnya tentang kebijaksanaan dari sang rahib tidaklah benar…. Keheningan aja tidak bisa diterangkan.

Sang rahib memandang pemuda itu dengan kasih dan berkata: "Saudara, bagaimana mungkin aku menjelaskan apa itu keheningan, kalau kamu sendiri sibuk dengan dirimu sendiri dan tidak mau diam untuk memasuki keheningan itu sendiri." Pemuda itu menjadi malu atas kebodohannya……

Pemuda dalam kisah di atas rupanya kesulitan memahami apa itu keheningan. Pikirnya kesucian adalah rangkaian gagasan dalam kata-kata. Padahal, untuk memahami apa itu keheningan, dia harus membiarkan dirinya diam dan masuk dalam keheningan itu sendiri.

Apa yang dialami oleh Nikodemus, yakni kesulitan memahami perkataan Yesus, memiliki kemiripan dengan apa yang dialami pemuda dalam kisah di atas. Nikodemus tidak mengerti ketika Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh 3:3). Bagi Nikodemus tidak mungkin seseorang yang sudah dilahirkan oleh Ibunya harus dilahirkan lagi. Tidakkah dia harus kembali ke rahim ibunya jika dia ingin dilahirkan lagi? Nikodemus memahami kelahiran sebagai kelahiran biologis. Tetapi, kelahiran yang dimaksudkan oleh Yesus adalah kelahiran dalam Roh dan bukan dalam daging. Seperti apakah orang yang dilahirkan di dalam Roh? Mereka yang dilahirkan di dalam roh dilukiskan oleh Yesus seperti "Angin bertiup ke mana ia mau," Kita mendengar bunyinya tetapi kita tidak tahu dari mana datang dan mau kemana perginya. Rasanya mereka yang dilahirkan kembali dalam Roh Allah hidup dalam kebebasan. Mereka tidak terkungkung dalam dirinya sendiri, tetapi seluruh hidupnya digerakkan dan diarahkan oleh Roh Allah itu sendiri. Hanya ketika Roh Allah meresapi hidup dan diri seseorang, maka dia akan mampu melihat Kerajaan Allah tidak lagi dengan mata fisik, tetapi dengan mata iman.

Allah selalu mengundang kita untuk melihat KerajaanNya. Tetapi, kita kerapkali tidak mampu melihatnya karena kita masih terkungkung dalam kesempitan diri dan pikiran kita. Bahkan, kita kerapkali melihat dan memahami rencana dan karya Allah menurut mata dan pikiran kita sendiri. Kita jarang membiarkan Roh Kristus untuk melihat dan memahami rencana dan karya Allah. Maka, hari ini kita dipanggil untuk membiarkan diri dilahirkan kembali di dalam Roh Kristus yang membebaskan kita dari kepicikan cinta diri dan sekaligus mengundang kita untuk hidup lepas bebas dan membangun persaudaraan dalam semangat kepedulian dan kasih dengan orang lain seperti yang diteladankan oleh umat Kristen perdana. (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


HOME | EVENTS | FAITH | PRAYERS | CONTACT | LINKS