Katekismus

Kembali

Katekismus: Anugerah Bagi Semua Orang
oleh: P. William P. Saunders *

Baru-baru ini saya menghadiri suatu konferensi mengenai pendidikan agama; pembawa acara mengatakan bahwa katekismus merupakan suatu teks acuan yang baik, tetapi tidak diperuntukkan bagi orang-orang biasa, kelas-kelas agama biasa, ataupun bacaan biasa.
Saya merasa heran akan hal ini. Mohon pendapat.

~ seorang pembaca di Reston

Pada tanggal 25 Juni 1992, Paus Yohanes Paulus II mensahkan Katekismus Gereja Katolik. Bapa Suci memaklumkan katekismus yang baru ini sebagai suatu anugerah bagi Gereja universal. Ia mengatakan, “`Katekismus Gereja Katolik' dipersembahkan kepada setiap manusia yang bertanya kepada kita mengenai dasar harapan kita dan hendak mempelajari apa yang Gereja Katolik imani.”

Pendapat bahwa katekismus hanya dimaksudkan sebagai suatu buku acuan merupakan pandangan yang sempit. Juga pendapat, seperti disebutkan dalam pertanyaan di atas, bahwa katekismus tidak diperuntukkan bagi “orang-orang biasa” menjadikan penulis artikel ini sebagai “orang yang tidak biasa,” dan artikel ini “artikel yang tidak biasa.”

Katekismus senantiasa memainkan peranan penting dalam pengajaran-pengajaran sejak masa awal Gereja. Sekitar tahun 100, disusun Didaché yang merupakan suatu kompendium (= ikhtisar) ajaran para rasul mengenai doktrin, moral dan liturgi. St Sirilus dari Yerusalem menyusun Duapuluh Empat Pengajaran Katekese sebagai awal mula standard Ritus Inisiasi Orang Dewasa. Bentuk-bentuk katekismus lainnya juga mulai berkembang.

Katekismus universal yang paling terkenal - Katekismus Romawi - diterbitkan di bawah otoritas Konsili Trente pada tahun 1566. Katekismus ini mempergunakan format empat pilar: Syahadat, Sakramen-sakramen, Moral dan Spiritualitas. Tujuan dari katekismus ini adalah menyajikan secara jelas Iman Katolik pada masa ketika gerakan Protestan menyerangnya dan ketika banyak orang mengacuhkan iman. Katekismus ini juga akan menjadi standard bagi perkembangan katekismus-katekismus wilayah dan bahan-bahan pendidikan agama yang lainnya.

Semua katekismus memiliki tujuan yang sama, yaitu mengajarkan Iman Katolik secara otentik. Semua katekismus ini diterbitkan pada masa pertentangan hebat, ketika kekuatan-kekuatan ketidakpercayaan, kebingungan dan kesesatan menyerang Gereja. Untuk alasan yang sama inilah, Paus Yohanes Paulus II mendesak diterbitkannya katekismus yang baru untuk kepentingan Gereja semesta.    

Pada tanggal 25 Januari 1985, Paus Yohanes Paulus II memanggil suatu sinode luar biasa para Uskup guna menandai duapuluh tahun berakhirnya Konsili Vatikan Kedua. Tujuan sinode ini bukan hanya sekedar merayakan rahmat dan buah-buah konsili, melainkan juga untuk memperjelas serta memperdalam pemahaman atas ajaran-ajarannya. Sama seperti konsili-konsili sebelumnya, dari hasil Konsili Vatikan II masih didapati ketidakpercayaan, kebingungan, sebagian meninggalkan Gereja, dan bahkan adanya kesesatan. Banyak program dan materi pendidikan agama gagal menyampaikan keindahan dan kedalaman iman Katolik. Sebab itu, sinode menegaskan, “Disepakati bersama agar disusun satu katekismus atau dengan lebih tepat satu kompendium mengenai seluruh ajaran iman dan susila Katolik, boleh dikatakan sebagai acuan untuk katekismus atau kompendium yang harus disusun di berbagai wilayah. Penjelasannya harus bersifat biblis dan liturgis, harus menyajikan ajaran yang benar dan serentak disesuaikan dengan kehidupan hari ini.” Maka sejak tahun 1986, Bapa Suci dan Kongregasi untuk Ajaran Iman yang dipimpin oleh Kardinal Ratzinger dengan giat membaktikan diri untuk menyusun katekismus yang baru, hingga akhirnya katekismus dapat diterbitkan pada tahun 1992.

Katekismus Gereja Katolik, seperti Katekismus Romawi, mempergunakan format empat pilar, yaitu:

  1. Apa yang diimani Gereja (suatu pengantar mengenai iman dan kemudian penjelasan mengenai Syahadat),
  2. Apa yang dirayakan Gereja (suatu pengantar mengenai liturgi dan kemudian penjelasan mengenai ketujuh sakramen),
  3. Apa yang dihayati Gereja (suatu pengantar mengenai panggilan hidup manusia dan teologi moral secara umum, kemudian penjelasan mengenai Sepuluh Perintah Allah dan ajaran moral Gereja),
  4. Apa yang didoakan Gereja (suatu pengantar kepada kehidupan batin dan kemudian penjelasan mengenai doa Bapa Kami).

Di satu pihak, Katekismus Gereja Katolik merupakan sesuatu yang lama, menguraikan kembali keyakinan yang telah lama dipegang teguh dan dijabarkan oleh Gereja, misalnya misteri Tritunggal Mahakudus. Di lain pihak, Katekismus Gereja Katolik merupakan sesuatu yang baru, membahas masalah-masalah moral seperti perang nuklir dan pertanyaan-pertanyaan seputar bioethic. Katekismus ini tidak mempergunakan format tanya jawab, melainkan bentuk uraian. Di samping itu, Katekismus Gereja Katolik diindeks dengan baik, disertai banyak kutipan dari Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, tulisan-tulisan dari para Paus, para Bapa Gereja dan para kudus. Secara keseluruhan, buku ini merupakan suatu kesaksian yang sungguh indah mengenai iman Gereja Katolik Roma. Pada tahun 1997, Katekismus dilengkapi dengan tambahan-tambahan agar up-to-date dengan ajaran-ajaran terbaru, misalnya penegasan Bapa Suci mengenai hukuman mati.

Pada saat publikasi Katekismus Gereja Katolik, Paus Yohanes Paulus II menyatakan, “Anugerah bagi semua orang: inilah maksud dari Katekismus yang baru. Sehubungan dengan teks ini, janganlah seorang pun merasa terasing, tersingkir ataupun jauh. Sesungguhnya, katekismus ini ditujukan bagi semua orang sebab katekismus ini mengenai Tuhan semua orang, Yesus Kristus, Ia yang mewartakan dan diwartakan, yang Dinanti, sang Guru serta Teladan dari setiap pewartaan. Katekismus ini bertujuan menanggapi dan memenuhi kebutuhan mereka semua yang, baik secara sadar ataupun tidak, mencari kebenaran dan kepastian, mencari Tuhan `dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing' (Kis 17;27).”

Oleh sebab itu, sarana pengajaran yang luar biasa ini dimaksudkan agar dipelajari dan didayagunakan juga oleh mereka yang duduk di panti umat. (Tentu saja, ada bagian-bagian dari Katekismus yang tidak mudah dipahami, dan karenanya bahan-bahan yang lebih sesuai diperlukan bagi anak-anak). Para orangtua, sebagai pengajar utama anak-anak mereka, dapat mempergunakan Katekismus Gereja Katolik dalam menanamkan iman kepada anak-anak. Di sana tersedia jawab atas berbagai pertanyaan yang mungkin dipertanyakan orang muda. Bilamana seorang anak mengajukan suatu pertanyaan, atau bilamana muncul pembicaraan yang membuat seseorang bertanya, maka orangtua, layaknya seorang guru yang baik, hendaknya pergi mendapatkan Katekismus, mempelajarinya, dan kembali kepada si anak dengan jawaban yang tepat dan jelas. Di samping itu, para orangtua dapat mempergunakan Katekismus bukan hanya sebagai sumber pelengkap bahan-bahan pendidikan agama di sekolah, melainkan juga sebagai standard untuk mempertanggung-jawabkan program pengajaran. Apa yang disajikan dalam Katekismus patut diwartakan dari mimbar, diajarkan di sekolah-sekolah Katolik, dan dihayati serta dipupuk dalam keluarga.

Singkat kata, Katekismus merupakan daya pemersatu dalam Gereja. Uskup Agung Bertone, sekretaris Kongregasi untuk Ajaran Iman, dalam peringatan sepuluh tahun diterbitkannya Katekismus Gereja Katolik mengatakan, “Katekismus disahkan oleh Bapa Suci sebagai alat pemersatu iman dan doktrin umum Gereja dalam masalah-masalah paling pokok mengenai Tuhan, misi Gereja sebagai sakramen universal, moral dan rencana Kristiani, sehingga Katekismus akan menjadi suatu alat untuk memaklumkan kepada umat manusia kebenaran-kebenaran yang merupakan jalan ke surga. Dari sudut pandang ini, Katekismus merupakan teks acuan yang pokok dan tepat untuk memeriksa pandangan-pandangan teologis, pengajaran-pengajaran, penyampaian doktrin Kristiani di berbagai gereja lokal, apakah sesuai dan selaras dengan warisan otentik seperti yang diwariskan kepada kita oleh para rasul dan Tradisi Gereja, yang telah terbukti kebenarannya untuk sepanjang masa dan untuk segenap komunitas Kristiani,” (disampaikan pada tanggal 27 Juni 2002).   

Oleh sebab itu, setiap keluarga Katolik patut memiliki serta mempergunakan terjemahan yang sah, baik Kitab Suci maupun Katekismus Gereja Katolik.


“dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya

HOME | EVENTS | FAITH | PRAYERS | CONTACT | LINKS