Jum'at Agung

Kembali

Manusia di atas salib itu berteriak serak memecah keheningan. Bagaikan seorang anak yang sedih mencari-cari Ayahnya, sumber ketenangan dan perlindungannya. Yesus terkulai di atas palang kayu.

Pemandangan yang sangat keji... Yang tidak bersalah, namun menerima hukuman mati. Di balik penderitaan-Nya Ia tidak melawan dengan umpatan atau cacian, bahkan Ia tidak memperhitungkan jasa-jasa-Nya terhadap rakyat Israel yang disembuhkan-Nya, diberikan-Nya makan, dibantu-Nya.

Masih adakah yang sadar di bukit itu? Dia yang tersalib itu Tuhan! Adakah yang peduli pada-Nya? Dia mengorbankan diri untuk kita. Untuk dosa-dosa yang telah membawa maut bagi dunia. Namun, lihatlah... Siksa keji tidak membuat-Nya jera, Dia tetap diam, seakan-akan memang orang yang bersalah yang pasrah dengan nasibnya.


Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring:
"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."
Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. 
( Luk 23:46 )

Masihkah kita mau menghitung dosa-dosa kita yang membuat-Nya sengsara?

  • Dia ditampar untuk setiap dosa kita yang menyinggung orang lain dan lupa berbuat baik.
  • Dia dipukuli karena kita suka membalas dendam dan memusuhi sesama manusia.
  • Dia diludahi untuk setiap cacian yang keluar dari mulut kita, menabur gosip, menjelekkan dan bersaksi dusta tentang orang lain.
  • Dia ditelanjangi, padahal kitalah yang berdosa, untuk setiap percabulan kita.
  • Duri-duri mahkota ranting yang menancap di kepala-Nya adalah dosa pikiran, keangkuhan dan kesombongan kita.
  • Paku-paku di palukan ke kedua tangan-Nya adalah karena dosa perbuatan kita.
  • Paku yang menancap di kaki-Nya adalah karena kita suka menginjak-injak orang lain, kita suka berpesta pora di atas penderitaan orang lain dan kita suka mencelakai orang lain.
  • Lambung-Nya di tikam untuk setiap dosa yang mementingkan diri kita, mencintai harta dan kekayaan, lupa dengan orang orang lapar dan nafsu serakah.

    Akhirnya Dia mati karena dosa kita yang tak terbilang banyaknya. Dia mati karena kita. Tidakkah kita berutang untuk setiap sakit hati, luka-luka di tubuh-Nya, tetesan darah dan nafas yang dikurbankan-Nya untuk kita?
Sumber : katolik site

Jumat Agung: Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16;5:7-9; Yoh 18:1-19:42
"Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."

Dalam sebuah lokakarya yang dihadiri oleh wakil-wakil dari Keuskupan (ekonom keuskupan, komisi liturgi dan arsitek) se Regio Jawa dibicarakan bersama perihal `arsitektur bangunan gereja'. Para pakar liturgi diharapkan memberi masukan perihal cirikhas bangunan yang `liturgis' , para arsitektur diharapkan memberi masukan perihal `bangunan gereja yang akrab dengan lingkungan', sedangkan para ekonom keuskupan tentu saja mencermati bangunan macam apa yang liturgis, akrab dengan lingkungan dan tentu saja `murah'. Diskusi dan pembicaraan berjalan cukup ramai untuk mencari bentuk/arsitektur bangunan gereja sebagaimana diharapkan. Dan memang ketika para pakar saling bertemu pada umumnya sulit disatukan atau ambil kebijakan atau kesepakatan bersama. Cirikhas yang harus ada sesuai dengan masukan dari pakar liturgy adalah bangunan gereja hendaknya `menyerupai kemah' untuk mengenangkan `kemah tempat
perjanjian kudus disimpan' pada zaman bangsa terpilih berada di perjalanan menuju `tanah terjanji'. Di antara para arsitek ada yang mengusulkan bentuk bangunan gereja yang mirip `kemah' adalah `bentuk joglo Jawa' khususnya untuk gereja-gereja di pedesaan, sedangkan di kota-kota besar hendaknya menyesuaikan arsitektur bangunan di lingkungan terkait. Romo JB Mangunwijaya Pr, alm, pastor, insinyur dan budayawan, yang diundang dalam pertemuan tersebut sebagai `tenaga ahli' dengan gayanya menanggapi diskusi dan polemik tersebut: " Di Jawa itu tidak ada bangunan gereja yang berasitektur `joglo murni', yang ada ialah `joglo Londo' (joglo Belanda), karena joglo yang betul itu memiliki `empat soko guru' (empat tiang penyangga di tengah-tengah), sedangkan yang ada sekarang `soko guru' tersebut sudah diamputasi. Menurut saya tidak perlu repot-repot perihal arsitektur, yang pokok adalah `jika di puncak bangunan dipasang salib' jadilah bangunan tersebut gereja atau kapel. `Bintang sabit' di menara masjid diganti `salib', maka jadilah gereja, sebaliknya `salib di puncak bangunan gereja diganti `bintang sabit' jadilah masjid. Jadi yang utama dan pertama- tama adalah `salib'. Orang Kristen atau Katolik ketika melihat bangunan dengan salib di puncak bangunan tersebut tentu `akan menundukkan kepadanya, berdoa untuk mempersembahkan dirinya kepada Tuhan".  Salib memang menjadi cirikhas murid atau pengikut Yesus, maka baiklah dalam rangka mengenangkan wafat Yesus di kayu salib/merayakan `Jumat Agung' hari ini saya mengajak kita semua merenungkan sabda-sabdaNya di puncak kayu salib.

"Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mrk 15:34) Salib merupakan bentuk hukuman terberat bagi orang-orang Yahudi, hukuman yang dikenakan bagi para penjahat kelas kakap, maka bagi yang disalibkan sungguh merupakan penghinaan luar biasa. Dengan demikian wajar bahwa saudara-saudari atau sahabat-sahabat yang tersalib juga merasa malu dan ketakutan, sehingga mereka menjauhi yang tersalib. Demikianlah kiranya yang dialami oleh Yesus secara manusiawi, dimana para rasul `meninggalkan Dia' sendirian tergantung di kayu salib, dan Ia pun merasa ditinggalkan oleh Allah juga.

Jumat Agung sering juga disebut Jumat Sepi, suatu ajakan untuk menyadari dan menghayati arti atau makna kesepian di dalam hidup kita. Kiranya di dalam perjalanan hidup kita sering merasa kesepian atau sendirian dan ditinggalkan baik orang sesama dan saudara- saudari maupun Allah. Maka marilah kita kenangkan dan satukan pengalaman kesepian tersebut bersama dengan Yesus yang tergantung di kayu salib. Kesepian sebagai konsekwensi kesetiaan atas panggilan dan tugas perutusan merupakan rahmat yang harus kita syukuri, karena dengan demikian kita berarti berpartisipasi dalam penderitaan dan salib Yesus, sebagai jalan penyempurnaan panggilan atau tugas perutusan. Curahkan dan persembahkan keluh kesah atau derita yang anda alami kepada Dia yang tergantung di kayu salib. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34)

Jika kita sedang sengsara, sakit dan tersingkir sendirian serta masih dihina atau dilecehkan oleh orang lain, tentu saja kita
semakin menderita dan sakit serta ada kemungkinan untuk marah-marah terhadap mereka yang menghina atau melecehkan kita. Dalam keadaan biasa atau sehat fisikpun ketika kita dihina atau dilecehkan pasti cenderung untuk marah dan balas dendam terhadap mereka yang menghina dan melecehkan kita. Di puncak penderitaanNya di kayu salib Yesus dihina dan dilecehkan oleh orang-orang yang menyalibkanNya, namun Ia tidak marah, menggerutu atau menyalahkan serta balas dendam terhadap mereka yang menyalibkanNya, bahkan Ia mengampuni mereka dengan doaNya: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". Doa seorang pahlawan keselamatan yang luar biasa serta mengagumkan.

Mereka yang menyalibkan Yesus kiranya tidak merasa bersalah, bahkan kiranya merasa menjadi `pahlawan bangsa', maka Yesus berkata bahwa `mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat', dan mereka layak untuk diampuni. Mungkin kita sering juga merasa disakiti atau dipersulit orang lain, maka marilah kita bersikap seperti Yesus, karena mereka yang menyakiti atau mempersulit kita juga tidak merasa melakukan demikian. Mereka itu mungkin orang-orang yang dekat kita seperti suami/isteri, anak, pembantu, rekan kerja dst… Jika kita tidak berani langsung mengampuni secara berhadap-hadapan atau tatap muka, baiklah kita berdoa seperti Yesus bagi mereka yang menyakiti dan mempersulit kita: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat".

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:43)

Sama-sama dalam penderitaan orang dapat saling menyalahkan atau mawas diri serta mengakui kesalahan dan dosa-dosanya, yang telah membuatnya menderita. Bersama Yesus disalibkan dua penyamun atau penjahat klas kakap, mereka layak disalibkan karena kejahatannya, begitulah ketentuan aturan yang berlaku, sedangkan Yesus boleh dikatakan sebagai `korban politik' alias tidak salah dan tidak jahat. Sikap dan tindakan terhadap `korban politik' kiranya juga dapat mendua, sebagaimana terjadi pada para penyamun/penjahat yang disalibkan bersama Yesus. "Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Luk 23:39-42). Kepada penjahat yang bertobat Yesus bersabda: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."(Luk 23:43)

Dari kisah di sekitar salib ini kiranya kita dapat belajar dan mengimani hal-hal berikut ini:

1). Sabda Yesus :"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" kepada penjahat yang bertobat merupakan wujud kemurahan hati Tuhan kepada umatNya. Hidup mulia dan berbahagia kembali di sorga bersama Tuhan setelah meninggal dunia merupakan anugerah atau kemurahan hati Tuhan, bukan karena jasa atau kebaikan orang yang bersangkutan. Hidup dan segala sesuatu yang menyertai kita termasuk kematian adalah anugerah Tuhan, maka hidup mulia dan bahagia di sorga juga merupakan anugerah Tuhan.

2) Dari dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus, kita dapat mawas diri dan belajar perihal sikap ketika orang akan meninggal dunia atau dipanggil Tuhan.  Ada orang yang karena dalam hidup sehari-hari jarang atau tidak pernah bersama dan bertemu dengan Tuhan, dengan kata lain tak bermoral, ketika menjelang dipanggil Tuhan /akan meninggal dunia ketakutan dan memberontak: kaki dan tangan bergerak kesana-kemari, mulut berteriak-teriak dan mata membelalak (dalam bahasa Jawa ->mecati), sedangkan orang yang terbiasa bersama dan bertemu dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari ketika akan meninggal dunia/dipanggil Tuhan ia menyerah dan mempersembahkan diri seutuhnya dengan sikap doa dan tersenyum, maka setelah menjadi `mayat' nampak lebih cantik atau tampan. Itulah `penjahat yang bertobat' dan berdoa kepada Yesus :" Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja".

Dari penjahat yang bertobat kita juga dapat mawas diri: ada orang yang nampak jahat seperti para preman, pencopet, penodong atau pencuri dst… Kiranya mereka tidak begitu jahat sebagaimana kita pikirkan; mereka bertindak demikian karena keterbatasan dirinya dan dari kelemahan serta kerapuhannya berusaha mempertahankan hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan. Sementara itu orang yang sungguh jahat mungkin nampak baik seperti para `pejabat yang korup', tokoh-tokoh masyarakat, bangsa dan Negara yang masih berkeliaran kesana- kemari naik pesawat terbang, tidur di hotel mewah, dikawal ketat kemanapun ia pergi dst.. Penjahat sungguhan masih berkeliaran seenaknya, sementara penjahat kelas teri keluar masuk penjara/bui. Penjahat kelas teri ini kiranya lebih mudah bertobat ketika akan dipanggil Tuhan dari pada penjahat sungguhan, klas kakap yang masih berkeliaran kesama-kemari.      

"Inilah ibumu!" (Yoh 19:27)

Seorang ibu pada umumnya sangat dekat dengan anaknya, apalagi ketika anaknya sedang sakit atau dalam derita, ia akan menemani atau menunggui anaknya yang sedang sakit tersebut. Demikian juga teman atau saudaranya yang merasa dekat pasti akan menamani juga. "Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya" (Yoh 19:25-27). Bunda Maria, Bunda Yesus, Penyelamat Dunia yang tergantung di kayu salib bersama `murid terkasih', Yohanes, berada dekat salib Yesus.

"Inilah ibumu", demikian sabda Yesus kepada murid terkasih pada detik-detik sebelum wafat. Pesan yang disampaikan pada saat-saat orang menjelang dipanggil Tuhan pada umumnya sungguh bermakna serta harus dituruti atau dilaksanakan. Bunda Maria adalah teladan umat beriman, bunda kita semua yang merasa menjadi murid atau sahabat- sahabat Yesus. Maka marilah kita meneladan Bunda Maria, yang senantiasa setia pada Yesus sampai wafat di kayu salib, yang bagi kita antara lain berarti setia menjadi murid-murid atau sahabat- sahabat Yesus selama perjalanan hidup kita sampai mati. "Pejang gesang nderek Gusti" (= Hidup atau mati mengikuti Tuhan), begitulah yang harus menjadi motto atau pedoman hidup kita sehari-hari. Baiklah kita juga meningkatkan dan memperdalam devosi kepada Bunda Maria yang berdiri di kaki salib Yesus.

 "Aku haus!" (Yoh 19:28)

Sepanjang hari tidak makan dan minum kiranya orang akan merasa sungguh lapar dan haus. Minuman kiranya lebih penting daripada makanan, minuman lebih dibutuhkan ketika orang sedang dalam kekurangan makanan atau minuman. Di puncak kayu salib Yesus merasa kehausan, "Aku haus", demikian sabdaNya. "Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus" (Yoh 19:29) Anggur asam berarti kurang enak atau kurang nikmat, dan itulah yang diminum oleh Yesus. Ia memang datang ke dunia untuk membuat yang kurang enak dan kurang nikmat menjadi enak dan nikmat, Ia adalah Penyelamat Dunia, menyelamatkan bagian-bagian dunia yang tidak selamat. SabdaNya "Aku haus" kiranya juga merupakan sentuhan atau ajakan bagi kita semua untuk memperhatikan apa yang tidak enak, tidak nikmat dan tidak selamat di sekitar lingkungan hidup kita. "Aku haus" merupakan ajakan bagi kita semua untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia, dan untuk itu kita harus sungguh mendunia. Dalam kesibukan mendunia, mengurus atau mengelola hal-ihkwal duniawi kiranya kita akan menghadapi `anggur-anggur asam', hal-hal yang kurang enak, kurang nikmat dan kurang sesuai dengan selera kita. "Minumlah", `nikmatilah'  semua itu sebagai partisipasi kita terhadap Yesus yang kehausan. Buatlah atau jadikanlah yang tidak enak menjadi enak, yang tidak nikmat menjadi nikmat, yang tidak selamat menjadi selamat.

"Sudah selesai." (Yoh 19:30)

"Sudah selesai"  begitulah sabdaNya setelah minum `anggur asam'. Ia telah menyelesaikan tugas perutusanNya untuk menyelamatkan dunia: membuka mata orang buta, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, memberi makan dan minum yang kelaparan dan kehausan, mengunjungi yang sakit dan berada di penjara, menegor dan mengingatkan para penjahat, mengusir setan dst.. ,yang dilambangkan dengan menikmati `anggur asam'.

Jika kita telah menyelasaikan dengan baik tugas perutusan dan pekerjaan kita, kiranya kitapun juga boleh berkata "Sudah selesai". Tetapi selama kita masih hidup dan bekerja sampai saat ini atau seperti saat ini kiranya kita masih jauh dari `selesai', dengan kata lain kita masih harus dengan rendah hati bekerja keras melaksanakan tugas perutusan dan pekerjaan kita. Maka marilah kita perhatikan mereka yang buta, sakit, mati, lapar dan haus, dipenjara, berbuat jahat atau berdosa dst.. yang berada di sekitar kita atau hidup dan bekerja bersama dengan kita. Kita saling membantu, bekerja sama, bergotong royong menghadapi dan menangani semuanya itu agar pada suatu saat ketika kita dipanggil Tuhan juga dapat berkata :"Sudah selesai".

"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." (Luk 23:46)

Nyawa atau roh adalah yang membuat tubuh hidup dan bergairah, dinamis. Apa yang menghidupkan dan menggairahkan serta membuat kita dinamis antara lain cita-cita, harapan, dambaan atau impian. Marilah kita persembahkan cita-cita, harapan, dambaan atau impian kita kepada Tuhan, artinya secara konkret dalam rangka mewujudkan cita- cita, harapan, dambaan atau impian tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan.

  1. Bagi suami isteri berarti setia pada janji perkawinan, senantiasa saling mengasihi baik dalam untung maupun malang,
  2. Bagi para imam berarti setia menjadi penyalur rahmat/berkat Tuhan bagi umat serta doa umat kepada Tuhan, menjadi gembala dan pelayan yang baik,
  3. Bagi para biarawan-biarwati berarti setia pada trikaul, hidup murni, taat dan miskin, sepenhnya membaktikan diri kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesama dan dunia,
  4. Bagi semua umat Allah yang telah menerima baptisan berarti setia pada janji baptis, hanya mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Biarlah dengan demikian di akhir hidup kita juga dapat berdoa: "Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku". (rm Maryo)

Sumber didapat dari: Frater Sebastianus W. Bu'ulolo, cm

HOME | EVENTS | FAITH | PRAYERS | CONTACT | LINKS