Ekaristi

Kembali

Sebagian besar orang Katolik akrab dengan Misa. Selain menghadiri Misa hari Minggu dan Hari Raya, banyak orang Katolik juga menghadiri Misa pada hari-hari biasa. Mereka menghadiri upacara pernikahan, pembaptisan, penguatan yang semuanya ada dalam konteks Misa. Mengapa perayaan Misa begitu sentral? Untuk apa mereka merayakan Misa? Misa dikenal dengan nama lain seperti Ekaristi, Liturgi atau Liturgi Ekaristi. Ekaristi berasal dari bahasa Yunani Eucharistia yang artinya syukur. Kepercayaan kepada Allah yang melakukan pekerjaan besar bagi kita dan yang selalu setia menyertai kita dalam hidup sehari-hari, menjadi alasan pokok dan utama bagi orang Kristen untuk bersyukur kepada-Nya. Bersyukur kepada Allah tentu dapat dilakukan secara pribadi, namun iman Katolik bukan hanya iman perseorangan melainkan iman dalam satu kesatuan dalam Gereja. Itulah sebabnya mengapa Gereja sebagai satu kesatuan berkumpul untuk merayakan Ekaristi. Mereka berkumpul untuk bersyukur dan memuji Allah atas segala kebaikan-Nya.

Ekaristi Perdana dan Kini
Kita semua mengenal Perjamuan Terakhir yang diadakan Yesus bersama para murid-Nya pada malam sebelum Dia wafat. Saat itu para murid belajar sesuatu yang takkan pernah mereka lupakan. Pada permulaan perjamuan, Yesus mengambil roti, membagi-bagi roti itu dan memberikannya kepada mereka seraya berkata, “Inilah TubuhKu yang di-serahkan bagi kamu” (Luk 22:20). Pada waktu itu, mungkin para murid tidak mengerti apa yang Yesus maksudkan. Baru sesudah tubuh-Nya sungguh-sungguh dikorbankan di salib dan darah-Nya ditumpahkan untuk mereka, para murid mulai mengerti apa yang Yesus ungkapkan pada perjamuan terakhir. Para murid melanjutkan praktik Yesus, makan bersama secara khusus dengan mereka yang ingin mengenal Yesus lebih mendalam. Sebelum membagi-bagi roti dan anggur, mereka mendengarkan kisah-kisah mengenai Yesus, dengan demikian mereka merasakan Dia berbicara dalam hati mereka. Selama perjamuan, mereka mengenang apa yang Yesus katakan dan lakukan sebelum Dia wafat. Ketika para pengikut mendengar lagi kata-kata Yesus atas roti dan anggur, mereka merasa bahwa Dia hadir lagi ditengah-tengah mereka. Ketika mereka mengambil roti dan membagi-bagi piala, lambang kurban Yesus, mereka sadar bahwa mereka harus membawa-Nya ke dalam kehidupan mereka dan membawa-Nya kepada orang lain.

Setelah Konsili Vatikan Kedua (1962-1965), para Uskup memutuskan bahwa liturgi harus diperbarui. Warna dasar pembaruan liturgi Vatikan terletak pada kata kunci participatio actuosa, yang mencita-citakan suatu liturgi yang dipahami umat secara sadar dan yang melibatkan umat secara aktif. Seluruh edisi baru dari Ekaristi diterbitkan dan diterjemahkan dalam bahasa-bahasa modern. Altar dipindahkan dari belakang dinding dan diputar, yang memungkinkan imam kembali menghadap umat sepanjang liturgi. Lebih dari itu, kita diundang untuk berpartisipasi aktif dalam berdoa dan bernyanyi.

Kerangka Ekaristi
Secara umum perayaan ekaristi dibagi menjadi 4 bagian, yaitu Pembukaan, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi dan Pengutusan. Ekaristi dibuka dengan sebuah ritus pembuka, yang bertujuan mempersatukan kita (umat) dan mempersiapkan umat agar menyadari kehadiran Allah, agar dapat mendengarkan sabda Allah dengan pantas dan bergairah dan dapat merayakan Ekaristi dengan pantas. Maksud ritus ini untuk membantu kita berpindah dari berpikir mengenai perhatian (kecemasan) harian menuju usaha untuk memusatkan diri pada maksud kita berkumpul.

Pada umumnya liturgi sabda terdiri dari:
1. Bacaan I
Diambil dari Perjanjian Lama. Setiap pembacaan Kitab Suci harus selalu diakhiri dengan kata-kata “Demikianlah Sabda Tuhan”. Kata-kata ini merupakan pernyataan resmi bahwa yang dibacakan tadi adalah sabda Allah sendiri sebab Allah hadir ketika Kitab Suci dibacakan. Dan umat menjawab “Syukur kepada Allah”.

2. Mazmur Tanggapan
Merupakan jawaban umat terhadap sabda Allah yang baru saja diwartakan dan didengarkan. Mazmur tanggapan termasuk unsur pokok dalam liturgi sabda. Ada petugas yang mendaraskan Mazmur dan umat berpartisipasi dengan mengucapkan refrain.

3. Bacaan II
Diambil dari Perjanjian Baru. Biasanya diambil dari surat sehingga bacaan II sering disebut epistola (=surat).

4. Bait Pengantar Injil (Alleluia)
Merupakan seruan kepada Kristus, maka umat berdiri. Alleluia dinyanyikan sepanjang tahun kecuali dalam masa Prapaskah.

5. Injil
bacaan Injil merupakan puncak seluruh liturgi sabda. Pembuatan tanda salib pada dahi, mulut dan dada merupakan kebiasaan kuno yang sudah dikenal Gereja selama lebih dari 1000 tahun. John Beleth, teolog abad XII melihat tanda salib sebelum Injil ini sebagai nasihat dan kesiapsediaan untuk bersaksi tentang sabda Allah dengan gagah berani, tanpa menyembunyikan wajah kita, untuk mengakui Injil dengan mulut dan memeliharanya dengan setia di dalam hati kita. Orang juga biasa menafsirkan pembuatan tanda salib pada ketiga tempat ini sebagai: “Sabda-Mu ya Tuhan, kami pikirkan dan renungkan, kami wartakan dan kami resapkan di dalam hati kami”. Pembuatan tanda salib oleh pembaca Kitab mengungkapkan bahwa dalam Injil ini Salib Kristus diwartakan.

6. Homili dan Credo (Syahadat)
Liturgi Ekaristi dibuka dengan persiapan altar dan penerimaan persembahan simbolik. Wakil umat membawa roti dan anggur (atau dengan uang persembahan) ke depan altar untuk diberkati dan disucikan. Dengan mempersembahkan persembahan ini, kita secara simbolis menpersembahkan diri kita sendiri, sebagai sebuah komunitas dan sebagai individu dan mengungkapkan keinginan kita untuk melayani satu sama lain.

Roh Kudus Turun
Doa Syukur Agung tidak mungkin tanpa pertolongan Roh Kudus. Oleh karena itu selalu ada suatu epiklese ialah doa permohonan supaya Roh Kudus turun. Dalam kebanyakan Doa Syukur Agung ada dua epiklese, satu supaya roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus (epiklese konsekrasi) dan kedua supaya mereka yang menerima tubuh dan darah Kristus, dipersatukan menjadi Tubuh Kristus yang mistik (epiklese komuni). Melalui ekaristi dengan pertolongan Roh Kudus, roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Oleh karenanya, setiap kita menerima hosti berarti kita menerima Kristus, selayaknyalah kita mempersiapkan diri sepantasnya dengan sikap yang hormat. Perhatikanlah, betapa seorang pastor yang mempersembahkan ekaristi, setelah umat menerima komuni, mengumpulkan semua remah-remah hosti yang berasal dari piala-piala, kemudian dibasuh dengan air, dan diminum. Demikian pula, anggur yang telah diubah menjadi darah Kristus, harus tak bersisa. Semua itu karena bukan karena roti dan anggur tetapi tubuh dan darah Kristus-lah yang hadir.

Konsili Vatikan II juga memberi pengertian lebih luas mengenai kehadiran Kristus. Hal itu dengan jelas dirumuskan: “Kristus hadir dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan maupun terutama dalam rupa roti dan anggur. Ia hadir oleh kekuatan-Nya, Ia hadir dalam sabda-Nya. Akhirnya Ia hadir bila Gereja bermohon dan bermazmur. Oleh karena itu komuni juga mempunyai arti yang lebih luas daripada hanya menyambut tubuh dan darah Kristus. “Komuni berasal dari bahasa Latin, communio yang berarti “kesatuan”. Bukan hanya kesatuan dengan Kristus dalam rupa roti dan anggur, melainkan juga kesatuan dengan jemaat. Seperti didoakan sebelum komuni “Bapa sebagaimana roti yang kami bagi-bagi ini telah dikumpulkan dari banyak butir gandum yang tersebar di lereng gunung, sudilah Engkau menghimpun pula umat-Mu dari segala ujung bumi dan mempersatukan mereka dalam kerajaan-Mu “.

Ekaristi ditutup dengan berkat pengutusan, “Aku menyertai kamu senantiasa”. Syukur kepada Allah.


Sumber : katolik site
HOME | EVENTS | FAITH | PRAYERS | CONTACT | LINKS