Siapa YESUS itu?

Kembali

ANIMA CHRISTI

Yesus adalah seorang Yahudi yang berasal dari Nazaret di Galilea. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Yahudi sederhana, yaitu keluarga Maria dan Yusuf, pada waktu yang sangat dekat dengan akhir pemerintahan Herodes Agung, yaitu kira-kira tahun 4 SZB.

Ia mempunyai saudara-saudara laki-laki, salah seorang daripadanya (Yakobus) kemudian hari menjadi terkemuka dalam jemaat Kristen Palestina (Yerusalem), dan saudara-saudara perempuan (Mrk. 6:3). Di daerahNya dan pada zamanNya, nampaknya “semua orang” tahu asal-usul Yesus. “Tentang orang ini kita tahu dari mana asalNya” (Yoh. 7:27).

Yesus tumbuh dewasa di dalam lingkungan kehidupan desa atau kota kecil Nazaret (Mat. 2:23; Luk. 2:4) di daerah Galilea selatan, kira-kira seratus mil sebelah utara Yerusalem. Nazaret adalah kota kecil yang sangat tidak berarti secara religius (band. Yoh.1:46; 7:41, 52). Namun Nazaret dekat dengan Sepphoris, kota terbesar di Galilea yang sangat diwarnai kebudayaan Hellenis (Yunani-Romawi), kota yang sangat kosmopolitan pada masa Yesus. Daerah Galilea dihuni juga oleh sejumlah besar orang dari bangsa-bangsa lain (band. Mat. 4:13-15). Karena itu mungkin sekali bahwa semua orang Yahudi di kawasan itu dapat berbicara dalam dua bahasa, yaitu bahasa Aram dan bahasa Yunani koine (yang biasa digunakan sehari-hari). Galilea adalah suatu daerah di wilayah Palestina. Sejak tahun 63 SZB seluruh wilayah Palestina telah menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi. Palestina diperintah oleh “raja-raja (setempat) yang diangkat dan dilindungi” (client kings) oleh Roma.

Oleh warga Nazaret Yesus dikenal sebagai seorang “tukang kayu” (Mrk. 6:3). Untuk itu pastilah Ia telah dibekalii dan belajar ketrampilan menggunakan alat-alat pertukangan seorang pengrajin kayu (dalam bahasa Yunani: tektwn, tekton ) yang membuat barang-barang dari kayu. Pada masa itu seorang pengrajin kayu adalah anggota keluarga yang telah kehilangan lahan garapan mereka, sehingga mereka tidak dapat lagi bertani.

Kesadaran keberagamaanNya tumbuh dan berkembang karena Yesus belajar dari keluargaNya yang cukup saleh (band. Luk. 2:41-42). Sudah pasti Ia juga belajar kisah-kisah, madah-madah, dan doa-doa menurut tradisi Yahudi. Dan tentunya Ia sangat memperhatikan dengan seksama dan turut merayakan hariraya-hariraya besar agama Yahudi, seperti Hariraya Paskah (di musim semi untuk memperingati keluaran dari Mesir), Hariraya Pentakosta (atau Hariraya Tujuh Minggu, limapuluh hari sesudah Paskah, untuk merayakan bahwa Allah adalah pemilik tanah dan mengucap syukur kepadaNya yang telah membuat tanah subur dan memberi hasil), dan Hariraya Pondok Daun (yang disebut Tabernakel, yaitu perayaan panen hari kedelapan di musim gugur untuk memperingati empatpuluh tahun yang dihabiskan Israel di padang gurun).Waktu perayaan-perayaan ini dihabiskan di Yerusalem.

Di samping itu, sama seperti anak laki-laki sebayaNya, Yesus juga harus belajar di sekolah sinagoge (rumah ibadah) setempat. Di sinagoge diadakan pertemuan-pertemuan yang di dalamnya pengajaran dan ibadah dilangsungkan. Yang ditekankan dalam pengajaran di sinagoge adalah kegiatan membaca dan menulis, dengan Torat sebagai bahan pokoknya. Sebagai seorang Yahudi, Yesus kenal betul tradisi Yahudi baik sebagai agama maupun sebagai kebudayaan, yang lazim disebut Yudaisme (Keyahudian).

Panggilan dan misinya
Pastilah ada saat di dalam hidupNya di mana Yesus menjadi pencari kebenaran agama dan mulai menggumuli masalah keagamaan. Pasti juga ada suatu “pengalaman pertobatan” terjadi dalam hidup Yesus; suatu proses entah dadakan atau bertahap yang melaluinya desakan-desakan dan kekuatan-kekuatan keagamaan menjadi penting bagi kehidupanNya; suatu pengalaman perubahan batin. Pengalaman inilah yang telah menuntun Yesus meninggalkan kehidupan yang biasa dan pergi ke padang gurun dan ke tepi sungai Yordan. Ia lepas dari keluargaNya. Ia hidup sendiri. Dan hal ini membawa Dia berhubungan dengan Yohanes Pembaptis. Semua kitab-kitab Injil memulai kisah pelayanan Yesus dengan menceritakan hubunganNya dengan Yohanes Pembaptis; Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Penangkapan dan penghukuman mati Yohanes Pembaptis nampaknya menjadi suatu peristiwa penting bagi kesadaran akan panggilan dan misiNya. Itu sebabnya penginjil Markus menempatkan permulaan pelayanan Yesus pada waktu Yohanes Pembaptis sudah ditangkap (Mark. 1:14). Bahkan Yesus pernah berkata: “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis”( Mat. 11:11; Luk. 7:28).

Peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dapat dilihat sebagai rampungnya semua persiapan, pematangan dari pengalaman keagamaan, untuk mengabdikan diri secara penuh kepada Allah dengan mengikuti panggilanNya sebagai seorang pengajar dan pemberita, yang menyampaikan kekayaan ilahi yang tak terselami, kepada siapa saja yang bersedia menerimanya. Dengan memberi diri dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, yang bermakna pertobatan, sementara Yesus sama sekali tidak perlu bertobat, Ia menempatkan dan menyamakan dirinya dengan Israel.

Dalam pelayananNya Yesus di atas segalanya adalah salah seorang yang memberitakan Kerajaan Allah dan yang menantang para pendengarNya untuk menanggapi realitas yang Dia beritakan. Kewibawaan dan kemanjuran Yesus sebagai seorang pemberita Kerajaan Allah diperkuat dengan suatu reputasi yang selayaknya sebagai seorang pengusir setan (exorcist); Ia mampu, dalam nama Allah dan KerajaanNya, menolong mereka yang percaya dirinya sendiri dikuasai atau dirasuk oleh roh-roh jahat. Demikian Ia berjalan dari desa-ke-desa, dari kota-kecil ke kota-kecil, mengkhotbahkan Kerajaan, mengusir setan-setan, menyembuhkan yang sakit, dan menawarkan pengharapan kepada yang miskin (lihat: Mat. 11:3-5). Citra umum Yesus dari kitab-kitab Injil adalah bahwa Dia nampak sebagai seorang nabi, pemberita, pengusir setan, dan penyembuh yang penuh-roh (spirit-filled) atau “kharismatis”, yang seringkali tidak memperdulikan akan, atau sengaja melanggar, tradisi kesucian yang resmi dan yang berkenaan dengan upacara keagamaan yang sangat diperhatikan oleh kebanyakan sesamaNya orang Yahudi.

Keprihatinan mendasar Yesus adalah membawa bersama ke dalam suatu kelompok kesatuan mereka yang menanggapi pemberitaanNya tentang Kerajaan Allah tanpa membedakan jenis kelamin, latarbelakang, atau sejarah mereka. Ciri utama kelompok ini adalah makan bersama, berbagi makanan bersama yang merayakan kesatuan mereka dalam hubungan yang baru dengan Allah, yang mereka nikmati atas dasar tanggapan mereka terhadap pemberitaan Yesus tentang Kerajaan.

Dengan keprihatinan pada kesatuan kelompok dari mereka yang menanggapi pemberitaanNya, Yesus menantang kecenderungan komunitas Yahudi pada zamannya yang terpecah-pecah pada dirinya sendiri yang dalam nama Allah menolak orang-orang tertentu dari anggota-anggotanya.

Hal ini menimbulkan oposisi yang tertanam mendalam terhadap Dia, yang mencapai puncaknya selama perayaan Paskah di Yerusalem di mana Ia ditangkap, diadili oleh penguasa Yahudi deng an tuduhan menghujat dan oleh penguasa Romawi dengan tuduhan sebagai penghasut, dan disalibkan. Sewaktu masa hidupNya Yesus telah memilih dari antara para pengikutNya sekelompok kecil murid-murid yang mempertunjukkan dalam karya mereka dalam namaNya sesuatu dari kuasa dan kewibawaan Yesus. Demikianlah muncul suatu “gerakan Yesus,” yang dipelopori oleh sekelompok orang-orang radikal yang berkeliling yang, sama seperti Yesus, berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya dan dari satu kota ke kota lainnya di Palestina, mengkhotkahkan dan menyembuhkan dalam namaNya.


Sumber : katolik site
HOME | EVENTS | FAITH | PRAYERS | CONTACT | LINKS