Sengsara dan Wafat-Nya

Kembali

Kesengsaraan, kematian dan kebangkitan Yesus menjadi kunci untuk memahami seluruh pengajaran dan pelayananNya. Atau, dengan kata lain, pengajaran dan pelayanan Yesus berlaku oleh karena dinyatakan demikian oleh penyalibanNya dan dibenarkan oleh kebangkitanNya (band. Rm. 1:4). Pelayanan Yesus dari kayu salib dan dari kubur kosong menjadi puncak kehidupan dan pelayananNya, yang membawa dampak abadi bagi kehidupan manusia.

Hal ini terjadi dalam minggu terakhir kehidupanNya, yang lazim oleh Gereja Kristus disebut sebagai “Pekan Suci,” di mana dirayakan peristiwa-peristiwa pokok yang dialami Yesus pada minggu terakhir kehidupanNya.

Yesus semakin sadar bahwa Ia akan menghadapi kekuatan-kekuatan yang sedang menentang Dia di dalam masyarakatNya sendiri, khususnya dari golongan yang berwibawa dalam agama dan masyarakat Yahudi. Pengajaran dan tindakanNya yang, dengan sengaja, nampak bertentangan dan merupakan kritik terhadap praktek keagamaan umum- nya itu sudah pasti akan bangkit menyerangNya. Maka pastilah Yesus sadar benar akan risiko yang harus dihadapiNya. Demikianlah Ia mengambil keputusan untuk masuk ke kota Yerusalem.

Bukan lagi secara diam-diam, tetapi secara terbuka, dan bahkan pada saat mulainya keramaian masa pesta keagamaan. Inilah yang oleh Gereja disebut sebagai Hari Minggu Palma, awal dari Pekan Suci (Mrk. 11:1-10 // Mat. 21:1-9 // Luk. 19:28-38 // Yoh. 12:12-15). Masuknya Yesus ke Yerusalem (Jerusalem Entry) memperkuat kesan Mesianis dalam benak orang banyak, yang memang selama ini cenderung mengartikan pengajaran dan tindakanNya demikian. Orang banyak telah lama mengharapkan kedatangan seorang pemimpin yang kuat, raja yang diurapi Allah (Mesias), yang akan membebaskan mereka dari kekuasaan Romawi dan memulihkan kembali kerajaan Yehuda seperti pada zaman emas yang dihubungkan dengan Daud.

Rombongan perarakan yang mengikuti dan mengelu-elukan Yesus masuk ke kota Yerusalem mulai dari kampung dekat Yerusalem, yaitu Betania, dan akhirnya tiba di Bait Suci. Di Bait Suci itu, menurut tradisi Injil, Yesus menentang kekuatan-kekuatan keagamaan, teristimewa kekuatan-kekuatan keuangan yang merajalela di balik tindakan keagamaan, yang menjadikan “rumah doa” bagaikan “sarang penyamun” (band. Mat. 21:13; Yes. 56:7; Yer. 7:11).

Dengan ini Yesus telah memposisikan diriNya, bukan hanya berseberangan dengan, tetapi justru menantang kewibawaan yang resmi. Itu sebabnya Ia harus dibungkam selama-lamanya (band. Luk. 19:47-48). Dan Yesus menyadari bahwa akan segera tiba waktunya menghadapi malapetaka besar. Namun, sebelum semuanya itu terjadi, adalah lebih penting untuk menikmati persekutuan dengan mereka yang paling dekat denganNya, sambil mempersiapkan mereka untuk menghadapi peristiwa yang tidak terbayangkan: itulah perjamuan malam terakhir, yang mengandung arti simbolis yang abadi (lihat Mrk. 14:12-25 // Mat. 26:17 -29 // Luk. 22:7-23; band. Yoh. 13:21 - 17:26).

Yesus meninggalkan ruang perjamuan itu untuk bersama-sama dengan murid-muridNya pergi ke Bukit Zaitun, yaitu ke sebuah kebun atau taman yang disebut Getsemani. Di dalam hidupNya, Yesus bukan hanya satu kali tapi sepanjang hidupNya dicobai. Dicobai untuk menempuh jalan pintas, bukan “jalan salib” (via dolorosa), untuk memenuhi misi dan panggilanNya menyelamatkan manusia (band. Ibr. 4:15). Pencobaan yang paling nyata, menurut para penulis Injil Matius dan Lukas, dialami Yesus sesudah pembaptisan- Nya oleh Yohanes Pembaptis (lihat Mat. 4:1-11 // Luk. 4:1-13).

Pergumulan jiwa dan isi doaNya di Getsemani (Mrk. 14:34 dyb) menyatakan bahwa Yesus benar-benar seorang manusia, yang lebih suka untuk tidak menempuh jalan salib. Itu sebabnya Ia membutuhkan persekutuan doa. Namun Petrus, Yakobus dan Yohanes tidak turut merasakan kegetiran pergumulanNya. Mereka tertidur. Sebenarnya bukan hanya Yesus, tetapi para murid juga membutuhkan persekutuan doa itu: “roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mrk. 14:38).

Di saat Yesus sangat merasakan kegetiran, dari kegelapan muncullah Yudas dengan ciuman pengkhianatan. “Hai teman, untuk itulah engkau datang?” (Mat. 26:50). Yesus benar-benar ditinggalkan. Malapetaka besar itu harus Ia hadapi sendiri. Yesus ditinggalkan secara total. Murid yang melarikan diri dengan telanjang, menurut penginjil Markus (14:51-52), melambangkan Yesus yang ditinggalkan secara total oleh murid-muridNya. Yesus ditangkap. Namun ketaatanNya kepada kehendak Allah dan kepercayaan penuh kepada Allah yang Ia tunjukkan, menyatakan betapa hebatnya musuh yang harus Ia hadapi.

Pengadilan yang dilaksanakan terhadap diriNya, baik oleh Imam Besar maupun oleh penguasa Yahudi dan Romawi, menunjukkan ketidakadilan yang luar biasa. Seluruh tatanan hukum yang berlaku baik dalam agama Yahudi maupun dalam pemerintahan Romawi menjadi tidak berarti. Hal itu semata-mata hanya karena memang Ia harus “di bungkamkan” selama-lamanya.

Para pemimpin agama Yahudi telah menemukan dan mempersiapkan beberapa saksi, yang akan memenuhi harapan mereka untuk menyingkirkan Dia. “Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari” (Mat. 26:61).

Di hadapan Pontius Pilatus, wakil pemerintahan dan pengadilan Romawi, dinyatakan tuduhan yang telah dipersiapkan: “Orang ini menyesatkan bangsa kami ... Dia melarang membayar pajak kepada Kaisar ... tentang diriNya Ia mengatakan bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja” (Luk.23:2). Tuduhan yang bernada politis. Mengingat Yesus mempunyai hubungan dengan Galilea, maka Pilatus mengirim Yesus kepada Herodes, raja dari galilea, yang diangkat dan dilindungi (client king) oleh Roma, yang berada di Yerusalem.

Strategi Pilatus ini adalah suatu upaya “cuci-tangan,” agar Herodeslah yang mengambil keputusan tentang keluhan dan bahkan tuduhan orang-orang Yahudi yang selalu mengganggu para penguasa denga urusan tetek-bengek menyangkut pelanggaran hak keagamaan mereka. Pilatus dan Herodes yang dulu bermusuhan, tetapi kini menjadi teman karena konspirasi membunuh Yesus melalui pengadilan yang tidak adil untuk memuaskan kepentingan sekelompok orang dan untuk mempertahankan posisi politik mere ka selaku punguasa.

Keputusan telah diambil, salib telah berada di depanNya. “Tidak ada jalan kembali.” Point of No Return. Sebelum penyaliban berlangsung, Yesus harus mengalami cambuk Romawi, penghinaan dan hujatan. Suatu penderitaan lahir-batin yang sungguh dahsyat. Menurut para penulis Injil, Yesus tetap sadar sampai nafas penghabisan. Ia tetap melayani orang-orang di sekitarnya, meneruskan persekutuanNya dengan Allah, dan menyatakan betapa berat kesengsaraanNya. Sekalipun semuanya itu Ia lakukan melalui perkataan dari atas kayu salib. Inilah yang oleh tradisi Gereja disebut sebagai Ketujuh Perkataan Yesus dari Salib.

“Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Kebutuhan Yesus sendiri bersifat jasmani dan nisbi, berlangsung sementara. Sedangkan para serdadu Romawi yang hanya menjalankan perintah atasan dan tidak tahu siapakah sebenarnya sang Hukuman itu, para penonton yang ikut meneriakkan “salibkan Dia!” tidak tahu bahwa sebenarnya mereka telah terlibat suatu kejahatan besar, dan para pemimpin agama Yahudi dan para penguasa Yahudi dan Romawi yang merasa benar karena mempertahankan hukum agama dan hukum negara mempunyai kebutuhan besar yang bersifat rohani. Keadaan mereka lebih parah. Mereka butuh diampuni, dipulihkan dan dibaharui, agar menjadi manusia yang utuh. Yesus memohon agar supaya Allah mengampuni mereka.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43b). Perkataan ini ditujukan kepada salah seorang penjahat yang tersalib di sisiNya dan yang menyadari kejahatannya serta bersandar pada Yesus. Kepada orang ini Yesus menguatkan hatinya dan memberikan jaminan berlakunya anugerah. “Ibu, inilah anakmu!” “Inilah ibumu” (Yoh. 19:27b). Perkataan ini ditujukan kepada ibuNya, seorang yang memberikan kehidupan kepadaNya dan yang dikasihiNya, dan ke pada Yohanes, seorang yang dekat denganNya. Mereka ini amat merasakan kehilangan, kesedihan dan dukacita. Karena itu Yesus mengutamakan kebutuhan mereka, agar di ke mudian hari Yohanes memperhatikan ibu Maria sebagai ibunya sendiri, dan perhatian ibu Maria terhadap seorang putera dapat diarahkan kepada Yohanes.

“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mrk. 15:34c). Perkataan ini menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya ditinggalkan oleh orang-orang dekatNya, tetapi juga merasa ditinggalkan oleh Allah. Mazmur 22:2 yang dikutipNya mau mengungkapkan perasaanNya. Betapa dasyat penderitaan yang harus dipikulNya demi kepentingan manusia semesta?!

“Aku haus” (Yoh. 19:28c). Penyaliban di siang itu membuatNya kering. BibirNya melepuh. Salah seorang serdadu berbelas kasih terhadap Yesus, dengan mengambil bunga karang, mencelupkannya dalam anggur asam dan memberikannya kepada Yesus dengan sebatang hisop. Masih ada orang yang hatinya belum membatu dan mampu bersimpati dengan penderitaan hebat seseorang. “Sudah selesai”(Yoh. 19:30b). Bagi kebanyakan orang, selalu ada sesuatu yang tersisa dari suatu tugas yang belum selesai. Tetapi Yesus melihat seluruh tugasNya telah selesai. dan karena itu orang hanya dapat merendahkan diri di kaki salib itu. “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (Luk. 23:46b). Lalu Ia mati.


Sumber : katolik site
HOME | EVENTS | FAITH | PRAYERS | CONTACT | LINKS