Kebangkitan-Nya

Kembali

Oleh karena Yesus bangkit dari antara orang mati, maka Diri PribadiNya bersama semua ajaranNya telah dibenarkan. Selama pelayananNya, Yesus sering mengajar dan ajaranNya itu sering memancing amarah para pemimpin agama Yahudi. Yesus sering memposisikan diriNya di atas hukum Taurat (lihat Mat. 5:21-22, 31-32, 33-34, 38-39, 43-44).

Bila Ia tidak bangkit, maka kewibawaan atau kekuasaanNya akan menjadi tidak ada, sama seperti para nabi zaman dahulu. KedatanganNya pun tidak mempunyai arti apa-apa. Tetapi kebangkitanNya menunjukkan bahwa janji-janji yang terkandung dalam Perjanjian Lama telah terpenuhi, dan kekuasaanNya dibenarkan.

Kebangkitan Yesus melahirkan suatu persekutuan yang di dalamnya Ia tetap hadir melalui RohNya. Gereja Kristus adalah tanda nyata bahwa Yesus hidup, Ia bangkit dan menjadi Tuhan. Persekutuan Kristen ini dapat melanjutkan pelayanan yang telah dimulai oleh Yesus sendiri. Mengambil bagian dalam persekutuan gereja berarti menggabung kan diri dalam suatu lingkungan luas dalam mana Allah bertindak secara khusus.

Dalam persekutuan ini kehidupan Yesus dihadirkan kembali, teristimewa bila orang menerima Baptisan dan mengambil bagian dalam perajaan Perjamuan Kudus, di mana saling menerima, mengampuni, mengasihi dengan tulus tanpa batas-batas jenis kelamin, etnis dan latar belakang dan upaya mewujudkan pendamaian dilakukan.

Melalui kebangkitan Yesus, kemenangan atas dosa, maut dan kekuatan jahat yang memerangi masalah-masalah paling pokok yang dihadapi manusia, kini terbuka. Persoalan setiap manusia, yang dipertanyakan oleh Ayub: “Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?” (Ayb. 14:14a), kini mendapat jawaban. Jalan buntu yang dihadapi manusia karena mengandalkan kekuatannya sendiri untuk mengatasi kekuasaan dosa, seperti yang diungkapkan oleh Paulus: “Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Rm. 7:24), kini telah terbuka.

Apabila Yesus tidak bangkit, “... sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Kor.15:17). “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Kor. 15:57). Dengan demikian kita rela mempertaruhkan hidup kita demi kepentingan Kerajaan Allah yang dibenarkan melalui kebangkitan Yesus, karena melalui kebangkitan itu kita diberi kepastian bahwa mengorbankan kehidupan secara paradoks akan menghasilkan kehidupan (band. Luk. 9:23-24; Yoh. 12:23-24). Dalam persekutuan dengan Tuhan yang bangkit itu, tidak ada upaya yang sia-sia (band. 1 Kor. 15:58). Dan atas nama Tuhan yang bangkit itu kita sungguh-sungguh dapat melibatkan diri dalam pelayanan pendamaian (2 Kor. 5:17), bagaimana pun sakitnya, berapa besarnya pengorbanannya, serta usaha apapun yang dituntut dari kita.


Sumber : katolik site
HOME | EVENTS | FAITH | PRAYERS | CONTACT | LINKS